China Sudah Kuasai Industri Surya, RI Kini Kejar 100 GW PLTS dalam 3 Tahun

by

Jakarta, Semangatnews.com – Indonesia memasang target ambisius dalam pengembangan energi surya. Pemerintah mendorong pembangunan PLTS hingga mencapai kapasitas 100 GWp dalam tiga tahun sebagai bagian dari strategi mempercepat penggunaan energi terbarukan di dalam negeri.

Langkah tersebut menjadi bagian penting dari agenda transformasi sektor energi. Pemerintah berharap peningkatan kapasitas pembangkit surya dapat memperluas sumber listrik nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit berbasis bahan bakar fosil.

Presiden Prabowo Subianto telah menunjukkan percepatan program tersebut dengan meresmikan 14 proyek PLTS yang memiliki total kapasitas 5,3 GW pada 25 Agustus 2026. Proyek-proyek itu menjadi bagian dari target yang jauh lebih besar untuk menambah 100 GW kapasitas surya hingga 2029.

Besarnya target membuat Indonesia harus bergerak cepat membangun proyek sekaligus menyiapkan seluruh rantai pendukungnya. Mulai dari penyediaan lahan, jaringan transmisi, pembiayaan, teknologi, hingga industri komponen harus dipersiapkan secara bersamaan.

Di tengah kebutuhan tersebut, China menjadi salah satu kekuatan terbesar yang sulit diabaikan. Industri surya China telah berkembang menjadi salah satu pusat manufaktur panel dan komponen energi surya dunia.

Dominasi tersebut memberikan keuntungan dari sisi ketersediaan dan skala produksi. Indonesia dapat memperoleh akses terhadap panel surya dan teknologi dengan cepat untuk mendukung pembangunan pembangkit dalam jumlah besar.

Namun, ketergantungan yang terlalu besar terhadap produk impor juga menyimpan risiko. Pengembangan PLTS yang masif tanpa penguatan industri lokal dapat membuat Indonesia hanya memperoleh manfaat dari sisi penambahan kapasitas listrik, sementara sebagian besar nilai ekonomi mengalir ke luar negeri.

Sejumlah pengamat sebelumnya telah mengingatkan risiko tersebut. Target PLTS yang besar perlu disertai pembangunan ekosistem industri nasional dan transfer teknologi agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi produk energi surya dari China.

Tantangan lainnya adalah memastikan listrik yang dihasilkan PLTS dapat terintegrasi dengan sistem kelistrikan nasional. Energi surya memiliki karakteristik yang berbeda dengan pembangkit konvensional karena produksinya berubah mengikuti intensitas cahaya matahari.

Karena itu, pembangunan PLTS perlu dibarengi pengembangan jaringan listrik dan teknologi penyimpanan energi. Langkah tersebut penting untuk menjaga keandalan pasokan listrik ketika produksi energi surya menurun, terutama pada malam hari atau ketika kondisi cuaca kurang mendukung.

Jika tantangan tersebut dapat diatasi, program 100 GWp bukan hanya berpotensi mengubah bauran energi Indonesia, tetapi juga dapat menjadi titik awal lahirnya industri surya nasional yang lebih kuat. Keberhasilan program ini pada akhirnya tidak hanya akan diukur dari berapa gigawatt PLTS yang berhasil dibangun, tetapi juga seberapa besar Indonesia mampu menciptakan nilai tambah dari booming energi surya tersebut.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.