Kematian Sempurna Jadi Alarm Karhutla Kalimantan, Evakuasi Satwa Diminta Tak Tunggu Asap Makin Parah

by

Jakarta, Semangatnews.com – Kematian orang utan Kalimantan bernama Sempurna menjadi alarm baru mengenai besarnya dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap ekosistem. Satwa tersebut sebelumnya ditemukan dalam kondisi kritis setelah diduga terpapar asap pekat di wilayah Ketapang, Kalimantan Barat.

Sempurna ditemukan dalam kondisi lemah dan mengalami gangguan pernapasan. Setelah dievakuasi oleh tim terkait, satwa tersebut mendapatkan penanganan medis, tetapi kondisinya terus memburuk hingga akhirnya dinyatakan mati.

Peristiwa tersebut mendapat perhatian Anggota Komisi VIII DPR Hetifah Sjaifudian. Ia menilai kematian Sempurna memperlihatkan bahwa dampak karhutla telah meluas hingga mengancam kehidupan satwa dilindungi.

Hetifah meminta pemerintah tidak menjadikan pemadaman api sebagai satu-satunya prioritas. Menurut dia, masyarakat dan satwa yang berada di sekitar lokasi kebakaran juga membutuhkan respons cepat ketika kualitas lingkungan mulai membahayakan.

Ia secara khusus mendorong percepatan evakuasi satwa di berbagai wilayah yang terdampak karhutla. Menurutnya, penyelamatan tidak seharusnya menunggu kebakaran membesar atau kondisi satwa sudah dalam keadaan kritis.

Dorongan tersebut menjadi penting karena kebakaran dapat mengubah kondisi habitat secara drastis. Hutan yang terbakar kehilangan vegetasi yang menjadi sumber makanan sekaligus tempat berlindung bagi satwa, sementara asap tebal dapat membuat satwa mengalami gangguan pernapasan.

Dalam sejumlah kasus, satwa yang kehilangan habitat dapat bergerak menuju area perkebunan atau permukiman warga. Situasi tersebut bukan hanya membahayakan satwa, tetapi juga dapat meningkatkan risiko konflik antara manusia dan satwa liar.

Kematian Sempurna juga memperlihatkan pentingnya sistem pemantauan satwa di kawasan yang rawan kebakaran. Ketika titik api terdeteksi berada dekat habitat penting, langkah mitigasi dapat dilakukan lebih awal untuk mengurangi risiko korban satwa.

Upaya penyelamatan membutuhkan kerja sama berbagai lembaga. BKSDA, pemerintah daerah, lembaga penanggulangan bencana, kementerian terkait, organisasi konservasi, serta masyarakat di sekitar kawasan perlu memiliki mekanisme koordinasi yang cepat ketika satwa ditemukan dalam kondisi terancam.

Persoalan karhutla di Kalimantan sendiri juga telah memberikan dampak terhadap kesehatan masyarakat. Dinas Kesehatan Kalimantan Barat mencatat lebih dari 165 ribu kasus ISPA sepanjang 1 Januari hingga 22 Agustus 2026, menunjukkan bahwa kabut asap telah menjadi persoalan kesehatan yang serius.

Dengan kondisi tersebut, kematian Sempurna seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat strategi penanganan karhutla. Perlindungan satwa tidak dapat dipisahkan dari perlindungan habitat, sementara pencegahan kebakaran harus dilakukan sebelum api dan asap menimbulkan kerusakan yang lebih besar. Bagi DPR, kejadian ini menjadi alasan kuat agar pemerintah mempercepat respons dan memastikan satwa terdampak tidak kembali terlambat mendapatkan pertolongan.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.