UANG
Oleh Suryadi
LEIDEN, SEMANGATNEWS.COM – Berbagai berita di media yang terkait dengan cara-cara manusia mencari uang sering membuat kita tercegang dan ternganga-nganga.
Dulu diberitakan, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar yang sudah dicokok KPK begitu mudahnya meraup timbunan rupiah berpuluh milyar hanya dengan cara memainkan gugatan pilkada di berbagai daerah.
Selepas itu sudah banyak pula terungkap koruptor-koruptor, besar dan kecil, termasuk oknum penegak hukum, mengembat uang rakyat.
Seorang buruh harian yang membanting tulang delapan kerat dengan upah hanya belasan ribu sehari mungkin teramat sulit membayangkan akan bisa memperoleh uang ratusan juta, jangankan puluhan milyar, walau dia dihidupkan Tuhan tiga-empat kali dari usia Nabi Adam.
Tapi apakah makna sesungguhnya timbunan uang berpeti-peti dan lipatan-lipatan lusuh beberapa ribu rupiah dalam genggaman kenek bus kota dan amai–amai penjual sayur di pasar-pasar tradisional?
Orang yang punya uang bertimbun mungkin memiliki kesenangan berwarna lain dari rupa kebahagiaan orang yang hanya memiliki koin recehan.
Dan hakekat uang memang pada perasaan betapa lebarnya lembaran seribu rupiah bagi si miskin dan betapa tak berartinya beberapa juta rupiah bagi si kaya berlindak.
Akan tetapi mengapa dalam hal uang manusia sering merasa tidak pernah cukup?
Bagaikan meminum air laut, makin direguk makin haus; makin menggunung kekayaan seseorang, makin bernafsu dia menambahnya.
Koruptor yang sudah memiliki berpeti-peti uang masih saja merasa belum memiliki uang yang cukup dan berusaha lagi mempertinggi gundukan uang miliknya dengan berbagai cara.
Barangkali penyebabnya adalah karena nilai uang dimanapun di muka bumi ini cenderung longsor, bahkan runtuh.
Tidak ada mata uang di dunia ini yang tidak menyusut nilainya, termasuk mata uang Uni Eropa: euro.
Ekonomi Eropa sekarang menjadi oleng karena mata urang euro yang dibuat oleh para bankir dan politikus cerdas Benua Putih itu menyusut drastis hanya dalam hitungan beberapa tahun setelah diluncurkan.
Pengamat ekonomi Islam Zaim Saidi pernah berkata ‘uang kertas adalah pengkhianatan atas takaran nilai atau harga, yang diwujudkan sebagai alat tukar, dari fitrahnya semula berupa komoditas bernilai menjadi semata-mata simbol numerik’.
Agaknya benar sebuah renungan yang mengatakan bahwa hakekat uang sesungguhnya terkait erat dengan anggapan personal terhadapnya.
Sebuah risalah filsafat mengatakan hakekat uang dan pandangan manusia terhadapnya terkait dengan emosi yang kompleks, perasaan dan perilaku manusia.
Setiap individu memiliki ‘pesan uang’ (money messages) yang didasarkan atas pengalaman masa lalunya, yang terkait dengan apa yang diamati dan diajarkan oleh orang itu.
‘Pesan uang’ ini mencerminkan sikap, persepsi dan harapan yang mempengaruhi perilaku keuangan seseorang hari ini.
Jadi, cara seseorang melihat dan memperlakukan uang ketika dewasa mungkin ditentukan pula oleh cara dia diperkenalkan dengan (budaya) uang oleh orang tuanya ketika masih kecil, yang juga akan diturunkannya kepada anak-anak dan lingkungannya ketika dia sudah berkeluarga dan menjadi anggota masyarakat.
Pada gilirannya, hal itu akan mempengaruhi pula cara-cara dia mencari uang: apakah akan memakai cara-cara main terabas saja, seperti yang dipraktekkan Akil Mochtar dan banyak koruptor lainnya, atau dengan cara-cara yang halal.
Lembaran/kepingan uang, walau yang merujuk pada kekuasaan Tuhan sekalipun (seperti dollar Amerika), adalah kertas yang memabukkan.
Karena uang seseorang menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesamanya dan karena uang pula banyak orang tergelincir ke dalam kehinaan di mata Tuhan dan juga di mata sesama manusia sendiri.
Agaknya tidak berlebihan jika kitab suci sebuah agama mengatakan “for the love of money is a root of all kinds of evil” (Cinta kepada uang adalah akar dari semua jenis kejahatan).
Leiden, 12 September 2026

