Jakarta, Semangatnews.com – Fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat terus memengaruhi kondisi cuaca Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat hari tanpa hujan lebih dari 60 hari telah terjadi di sejumlah wilayah yang tersebar pada 25 provinsi.
Kondisi paling ekstrem tercatat di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Salah satu lokasi pengamatan di wilayah tersebut telah mengalami 131 hari tanpa hujan secara berturut-turut atau lebih dari empat bulan.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan bahwa meluasnya periode tanpa hujan merupakan salah satu dampak dari kondisi iklim yang terjadi pada tahun ini. Kekeringan meteorologis ekstrem tidak hanya terjadi di Pulau Jawa, tetapi juga terpantau di berbagai wilayah Indonesia.
Kuatnya El Niño terlihat dari perkembangan suhu muka laut di kawasan Nino 3.4 Samudra Pasifik. Pada akhir Agustus 2026, anomali suhu muka laut tercatat mencapai +2,83, sedangkan nilai rata-rata Juli hingga September berada di angka +2,63.
Selain El Niño, kondisi atmosfer Indonesia juga dipengaruhi oleh Indian Ocean Dipole (IOD) positif. BMKG menyebut kombinasi kedua fenomena tersebut memperparah serta memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia.
Dampak kondisi tersebut terlihat dari masih luasnya wilayah yang berada dalam musim kemarau. BMKG mencatat 556 zona musim atau sekitar 61,91 persen luas daratan Indonesia masih mengalami musim kemarau berdasarkan pemantauan terbaru.
Kondisi kemarau juga terjadi pada sejumlah zona musim yang secara normal memiliki karakteristik hujan sepanjang tahun. Menurut BMKG, anomali hujan pada 2026 membuat sebagian zona tersebut ikut mengalami periode kering.
Situasi ini turut memengaruhi perkiraan datangnya musim hujan. BMKG memprediksi awal musim hujan 2026/2027 di 529 zona musim atau sekitar 61,08 persen wilayah Indonesia akan mengalami kemunduran dibandingkan rata-rata klimatologis.
Sebagian besar wilayah diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada November dan Desember 2026. Sementara itu, sejumlah daerah baru diprediksi mencapai puncak musim hujan pada Januari hingga Februari 2027.
Dengan kondisi kemarau yang masih berlangsung, keterbatasan air menjadi salah satu hal yang perlu diantisipasi. BMKG mendorong kementerian, lembaga, pemerintah daerah, institusi terkait, dan masyarakat melakukan langkah persiapan untuk menghadapi kondisi sumber daya air yang terbatas.
Masyarakat juga diimbau mengikuti perkembangan informasi cuaca dan iklim secara berkala. Pemantauan tersebut penting karena kondisi atmosfer dapat berbeda antarwilayah, termasuk kemungkinan munculnya hujan di daerah tertentu meskipun sebagian besar wilayah masih mengalami kemarau.(*)

