Jakarta, Semangatnews.com – Amerika Serikat meningkatkan kehadiran militernya di Timur Tengah dengan mengirim kapal induk USS Theodore Roosevelt bersama gugus tempur dan unsur Marinir. Langkah tersebut berlangsung ketika konflik dengan Iran memasuki fase yang kembali diwarnai ketegangan dan kebuntuan diplomasi.
USS Theodore Roosevelt meninggalkan San Diego pada 27 September. Sehari setelahnya, Gugus Tugas Amfibi USS Makin Island juga berangkat membawa Unit Ekspedisi Marinir ke-13. Kedua kelompok tersebut dijadwalkan menjalani pengerahan dalam jangka waktu yang panjang.
Pengerahan tersebut diperkirakan membawa tambahan sekitar 9.000 hingga 10.000 personel AS ke kawasan Timur Tengah. Rinciannya mencakup lebih dari 7.000 pelaut dan sekitar 2.000 Marinir yang berada dalam kelompok kapal yang diberangkatkan.
Kehadiran Theodore Roosevelt nantinya akan menambah kekuatan kapal induk AS di kawasan. Dua kapal induk yang sudah berada di Timur Tengah adalah USS George H.W. Bush dan USS George Washington, meski posisi Washington dapat berubah setelah kapal induk Roosevelt tiba.
Pemerintah AS belum memastikan bahwa tiga kapal induk tersebut akan berada di kawasan secara bersamaan dalam jangka panjang. Salah satu skenario yang dilaporkan adalah USS George Washington kembali ke Jepang sehingga Theodore Roosevelt mengambil alih sebagian tugasnya.
Meski demikian, pengerahan Roosevelt menunjukkan peningkatan kapasitas militer AS di sekitar kawasan konflik. Associated Press melaporkan tambahan kekuatan tersebut dapat membuat jumlah personel Angkatan Laut dan Marinir AS di kawasan mencapai lebih dari 20.000, belum termasuk personel militer AS lainnya.
Langkah Washington tersebut berlangsung ketika pembicaraan dengan Teheran belum menemukan titik temu. Iran sebelumnya mengajukan proposal gencatan senjata selama tujuh hari yang juga mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan kelanjutan negosiasi mengenai program nuklirnya.
Proposal tersebut kemudian ditolak oleh Trump. Dalam pernyataannya, Trump menyebut dirinya masih membuka kemungkinan untuk meningkatkan kembali operasi militer terhadap Iran setelah pemilu sela pada 3 November apabila kesepakatan tidak tercapai.
Selat Hormuz menjadi salah satu isu penting dalam perkembangan terbaru konflik. Jalur perairan tersebut merupakan salah satu rute utama perdagangan energi dunia, sehingga setiap gangguan terhadap aktivitas pelayaran di kawasan Teluk dapat memiliki dampak luas terhadap pasar energi internasional.
Di tengah peningkatan kekuatan militer, jalur diplomasi masih berlangsung. Iran menyampaikan proposal melalui Qatar, sementara Amerika Serikat mempertahankan tekanan militer dan ekonomi terhadap Teheran. Kedua pendekatan tersebut berjalan beriringan ketika belum ada kesepakatan baru mengenai penghentian konflik.
Dengan keberangkatan Theodore Roosevelt dan Makin Island, perhatian kini tertuju pada perkembangan kekuatan AS di kawasan serta respons Iran. Kedatangan unsur militer tambahan diperkirakan berlangsung dalam beberapa pekan mendatang, sementara arah konflik dan proses diplomasi masih terus berubah.(*)

