Jakarta, Semangatnews.com – Rupiah kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis (8/10/2026). Penguatan ini menjadi lanjutan tren positif rupiah setelah mata uang Garuda berhasil mencatat apresiasi dalam dua perdagangan sebelumnya.
Mengacu pada data Refinitiv, rupiah mengawali perdagangan di level Rp17.855 per dolar AS. Nilai tersebut mencerminkan penguatan 0,11% dari posisi penutupan Rabu (7/10/2026) yang berada di level Rp17.875 per dolar AS.
Pada saat yang sama, dolar AS mengalami tekanan di pasar global. Indeks DXY yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama tercatat melemah 0,06% menjadi 102,178 pada pukul 09.00 WIB.
Pelemahan dolar menjadi salah satu faktor yang membantu rupiah bergerak lebih tinggi. Meski demikian, penguatan rupiah tetap harus dilihat dalam konteks kondisi pasar global yang masih sensitif terhadap arah kebijakan bank sentral AS.
Pasar valuta asing kini memberikan perhatian besar terhadap risalah rapat FOMC September. Dokumen tersebut memperlihatkan bahwa sebagian besar pejabat The Fed masih menilai kenaikan suku bunga tambahan dapat diperlukan sebelum penghujung 2026 karena inflasi AS masih berada di atas target 2%.
The Fed sebelumnya telah menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dalam rapat September. Dengan keputusan tersebut, suku bunga acuan AS berada pada kisaran 3,75%-4,00%, sehingga kebijakan moneter Amerika masih menjadi salah satu sumber tekanan bagi mata uang negara berkembang.
Berdasarkan proyeksi yang dirilis pada September, sebanyak 16 dari 18 pejabat FOMC memperkirakan masih akan ada satu kali kenaikan suku bunga pada tahun ini. Namun, waktu pelaksanaan kenaikan tersebut masih belum dapat dipastikan karena The Fed akan mempertimbangkan perkembangan data ekonomi.
Dari sisi domestik, pelaku pasar juga menantikan data Indeks Keyakinan Konsumen September yang akan dirilis Bank Indonesia. Data tersebut dinilai penting untuk melihat tingkat optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi sekaligus memberikan gambaran mengenai prospek konsumsi rumah tangga.
Pada Agustus 2026, IKK berada di level 118,5, lebih tinggi dibandingkan 116,8 pada Juli. Posisi di atas 100 menunjukkan tingkat keyakinan konsumen masih berada dalam zona optimistis.
Pergerakan rupiah juga mendapat dukungan dari kondisi fundamental domestik. Pada akhir September, cadangan devisa Indonesia tercatat US$146,3 miliar. Meski turun tipis dari US$146,5 miliar pada Agustus, posisi tersebut masih dinilai kuat dan setara dengan pembiayaan sekitar 5,3 bulan impor.
Dengan kombinasi sentimen domestik dan pelemahan dolar AS, rupiah memiliki peluang mempertahankan tren penguatan dalam perdagangan hari ini. Namun, investor tetap perlu mencermati perkembangan kebijakan The Fed, data ekonomi AS, serta respons pasar global karena ketiga faktor tersebut masih dapat memengaruhi arah nilai tukar dalam waktu dekat.(*)

