PADANG, SEMANGATNEWS.COM – Belum optimalnya kegiatan pembelajaran Seni Rupa dalam mengembangkan kreativitas dan inovasi mahasiswa calon guru Sekolah Dasar disebabkan ; keterbatasan kesesuaian bahan ajar dengan kebutuhan pembelajaran, serta belum tersedianya buku penunjang yang memadai menjadi persoalan serius yang harus dihadapi dunia pendidikan saat ini.
Di banyak perguruan tinggi, mata kuliah seni rupa diakui kurang mendapat porsi dalam kurikulum, termasuk PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar) jenjang Sarjana yang sering tergantikan mata kuliah lain yang dianggap lebih penting. Akibatnya, waktu pengembangan kompetensi seni calon guru menjadi terbatas.
Untuk itu, diperlukan pengembangan model pembelajaran yang mampu meningkatkan keterlibatan, kreativitas, dan inovasi mahasiswa. Salah satunya melalui penerapan Project Based Learning (PjBL) model pembelajaran yang tidak hanya mengembangkan pengetahuan kognitif siswa, tetapi juga keterampilan sosial, afektif, dan kreatif dengan menempatkan mahasiswa sebagai pusat kegiatan belajar melalui pengerjaan proyek-proyek nyata yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
Keberhasilan implementasinya bergantung pada kesiapan guru, dukungan sarana-prasarana, dan desain proyek yang kontekstual serta relevan dengan kehidupan nyata siswa. Dengan pengelolaan yang tepat, PJBL dapat menjadi alat yang efektif untuk membekali siswa menghadapi tantangan abad ke-21, sebagaimana disampaikan Zulmi Aryani,M.Pd Dosen tetap STKIP Widyaswara Indonesia dalam sidang terbuka Promosi Doktor Ilmu Pendidikan Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Padang, Rabu lalu 14/10/26 di Aula Sekolah Pascasarjana UNP Padang.
Disertasi Zulmi Aryani (2026) yang mengangkat judul ; “Pengembangan Model Pembelajaran Seni Rupa Kreatif dan Inovatif Berbasis Project Based Learning (PjBL) dengan Output Pameran Karya Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) disampaikan dihadapan Prof. Dr. Darmansyah, ST, M.Pd., Prof. Dr. Setiawati, M.Si., promotor 1 dan 2, Prof. Dr. Zelhendri Zen, M.Pd., Ph.D, Ir. Drs. Heldi, M.Si., Ph.D pembahas 1 dan 2, Prof. Dr. Nenni Hermita, S.Pd., M.Pd penguji eksternal, Validator Prof. Dr. Abna Hidayati, M.Pd., Dr. Jupriani, M.Pd., Dr. Rayendra, M.Pd., Dr. Deri Wan Minto, M.Pd, Prof. Dr. Darmasyah, ST, M.Pd., Koordinator Program Studi Ilmu Pendidikan Pascasarjana Universitas Negeri Padang, Direktur Pascasarjana Universitas Negeri Padang Prof. Yenni Rozimela, M.Ed., Ph. D., dan Ir. Krismadinata, S.T., M.T,Ph.D., Rektor Universitas Negeri Padang.
Zulmi Aryani mengurai bahwa Pengembangan Model Pembelajaran Seni Rupa Kreatif dan Inovatif Berbasis Project Based Learning (PjBL) dengan Output Pameran Karya Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dan Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Padang dilatarbelakangi belum optimalnya pembelajaran Seni Rupa dalam mengembangkan kreativitas dan inovasi mahasiswa.
Melalui penelitian menggunakan metode Research and Development (R dan D) dengan model Plomp yang meliputi preliminary research, prototyping phase, dan assessment phase dengan subjek penelitian berjumlah 50 mahasiswa, terdiri 27 mahasiswa STKIP Widyaswara Indonesia dan 23 mahasiswa Universitas Negeri Padang Kampus Sawahlunto dikumpulkan melalui angket, lembar observasi, dan rubrik penilaian, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif, deskriptif kuantitatif, dan uji paired t-test.
Dari hasil penelitian ; model yang dikembangkan berkategori sangat valid, dengan validitas Buku Dosen sebesar 100% dan Buku Mahasiswa 96%. Kepraktisan model berkategori sangat praktis, dengan skor one-to-one 92,02%, small group 90,89%, serta field test sebesar 88,57% untuk kreativitas dan 87,38% untuk inovasi. Keefektifan model ditunjukkan oleh nilai signifikansi 0,000 < 0,05, yang menunjukkan adanya perbedaan kemampuan berpikir kreatif dan inovatif mahasiswa sebelum dan sesudah penerapan model. Selama proses pembelajaran dengan model yang dikembangkan memenuhi kriteria valid, praktis, dan efektif serta dapat digunakan dalam pembelajaran Seni Rupa mahasiswa PGSD.
Dalam model tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teoritis, tetapi juga didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, berkolaborasi, berkomunikasi, serta menghasilkan produk yang mencerminkan pemahaman terhadap materi yang dipelajari. Melalui keterlibatan aktif dalam setiap tahapan proyek, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi hasil, mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang mampu meningkatkan kemandirian dan rasa tanggung jawab terhadap proses maupun hasil belajarnya.
Banyak Karya Mahasiswa Dibuang Setelah Dinilai Tanpa Diapresiasi
Berdasarkan observasi sejak tanggal 5 Januari—20 Juni 2025 lalu beberapa permasalahan yang dapat muncul dalam mata kuliah seni rupa pada Program Studi PGSD di STKIP Widyaswara Indonesia sebagai berikut ; Pertama, pemahaman dan penghargaan terhadap seni masih rendah. Banyak karya mahasiswa dibuang setelah dinilai tanpa diapresiasi. Calon guru PGSD umumnya tidak memiliki latar belakang seni yang kuat, baik teori maupun praktik, sehingga kurang percaya diri dan kesulitan mengajarkan seni rupa di sekolah.
Kedua, hasil belajar mahasiswa belum optimal hal ini terlihat dari 23 mahasiswa menunjukkan bahwa kategori B mendominasi sebesar 61,5% (14 mahasiswa), sedangkan kategori A sebesar 21,7% (5 mahasiswa) dan kategori C sebesar 17,4% (4 mahasiswa). Dominasi kategori B menunjukkan ; sebagian besar mahasiswa telah mencapai capaian belajar yang baik, tetapi belum menunjukkan hasil sangat baik secara merata. Sementara itu, masih terdapat mahasiswa kategori C yang menunjukkan perlunya bimbingan dan penguatan untuk mencapai capaian pembelajaran yang diharapkan. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya pengembangan pembelajaran Seni Rupa yang dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih kreatif, inovatif, dan bermakna sehingga mampu meningkatkan capaian belajar mahasiswa secara lebih optimal.
Ketiga, keterbatasan fasilitas dan sumber daya turut menghambat pembelajaran. Banyak perguruan tinggi belum menyediakan alat, bahan, dan ruang praktik yang memadai, sehingga proses pembelajaran seni tidak berjalan optimal. Keempat, mata kuliah seni rupa belum terintegrasi dengan bidang lain. Kurangnya integrasi ini membuat potensi seni rupa sebagai media pembelajaran interdisipliner belum dimanfaatkan secara maksimal.
Karena itu, pendekatan PjBL diyakini mampu meningkatkan motivasi belajar, kreativitas, serta kemampuan mahasiswa dalam menghasilkan karya yang inovatif dan bermakna (Kurnia, 2025). Kegiatan ini mendorong mahasiswa untuk mengeksplorasi berbagai ide, memanfaatkan berbagai sumber belajar, serta mengembangkan solusi kreatif terhadap permasalahan yang dihadapi. Pembelajaran pendekatan PjBL juga memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengekspresikan gagasan dan potensi yang dimilikinya melalui produk nyata yang dapat dipresentasikan maupun dipublikasikan. Proses pembelajaran tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga pada pengembangan kompetensi abad ke-21 meliputi ; kreativitas, kolaborasi, komunikasi, dan kemampuan berpikir kritis.
Relevansi penerapan PjBL semakin kuat seiring implementasi Kurikulum Merdeka yang diperkenalkan (Kemendikbudristek) tahun 2022. Kurikulum ini memberikan keleluasaan kepada pendidik untuk merancang pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, fleksibel, kontekstual, dan mampu mengembangkan potensi sesuai karakteristik serta kebutuhan belajar masing-masing peserta didik.
Dalam konteks tersebut, seni rupa menjadi salah satu mata pelajaran yang memiliki peran strategis dalam mengembangkan kreativitas, apresiasi estetika, kemampuan berekspresi, dan keterampilan berkarya peserta didik di sekolah dasar (Masruroh dkk, 2025).
Penerapan model Project Based Learning dalam pembelajaran seni rupa dinilai sangat sesuai dengan semangat Kurikulum Merdeka karena mampu memfasilitasi peserta didik untuk belajar melalui pengalaman langsung, menghasilkan karya autentik, serta membangun karakter kreatif, inovatif, kolaboratif, dan mandiri. Mata kuliah ini membekali mahasiswa dengan pemahaman konseptual dan keterampilan praktis bidang seni rupa yang dapat dikembangkan dan diterapkan dalam konteks kehidupan sehari-hari maupun pembelajaran di Sekolah.
Secara yuridis, pengembangan kompetensi tersebut sejalan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 10 Tahun 2025 tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, Jenjang Pendidikan Menengah, yang menempatkan pengembangan kompetensi peserta didik secara holistik bagian penting capaian pendidikan.
Selanjutnya, Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2025 tentang Standar Isi pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah menegaskan bahwa standar isi merupakan kriteria minimal yang mencakup ruang lingkup materi untuk mencapai kompetensi lulusan, yang disusun berdasarkan muatan wajib, konsep keilmuan, serta karakteristik jalur, jenjang, dan jenis pendidikan.
Dalam konteks pembelajaran seni di sekolah dasar, seni rupa menjadi bagian penting dalam pengembangan kemampuan peserta didik untuk berekspresi, berkreasi, mengembangkan kepekaan estetis, serta menghasilkan karya sesuai dengan karakteristik dan tahap perkembangannya (Qur’aini dkk., 2025).
Penguatan pelaksanaan pembelajaran sejalan dengan Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses, yang mengatur perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian proses pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Beberapa tujuan penting dari pembelajaran seni di tingkat SD adalah mengembangkan kreativitas siswa melalui berbagai media dan bahan. Meningkatkan keterampilan siswa dalam membuat karya seni yang mencerminkan nilai estetika. Menumbuhkan rasa cinta terhadap seni dan budaya bangsa (Hasanah dan Andaryani. 2025).
Mengacu kepada Standar Kompetensi Lulusan (SKL) PGSD, calon guru PGSD tidak hanya dilatih untuk menguasai mata pelajaran inti (seperti matematika, IPA, dan bahasa), tetapi juga memiliki kompetensi untuk mengajar mata pelajaran seni rupa (Wati, dkk. 2024).
Guru PGSD harus mampu mendesain pembelajaran seni rupa yang menarik bagi siswa SD, menilai dan mengembangkan keterampilan siswa dalam bidang seni dan keterampilan, menggunakan seni sebagai alat untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berpikir kreatif dan menyelesaikan masalah (Opida & Oktaviani 2024).
Kurikulum PGSD di Perguruan Tinggi, yang diterapkan di program studi PGSD juga mencakup mata kuliah yang mengajarkan tentang seni rupa, serta bagaimana cara mengajarkannya di tingkat sekolah dasar. Di beberapa perguruan tinggi, ada mata kuliah seperti model pengajaran seni rupa dan kreativitas dan inovasi dalam seni (Bowo, S. 2024).
Diperkuat UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Undang-Undang ini menetapkan dasar hukum bagi sistem pendidikan di Indonesia. Dalam pasal-pasalnya, terdapat penekanan pentingnya pengembangan karakter dan keterampilan siswa melalui berbagai aspek pendidikan, termasuk seni dan budaya. Meskipun undang-undang ini lebih umum, namun seni rupa tetap tercakup dalam pengembangan pendidikan karakter melalui seni (Anitimo, dkk. 2024).
Pengembangan model pembelajaran Seni rupa Kreatif dan Inovatif berbasis PjBL dengan Output Pameran Karya Mahasiswa PGSD idealnya harus mencakup beberapa komponen penting yang mendukung efektivitas pembelajaran, sesuai teori pendidikan dan seni rupa yang ada. Berdasarkan kondisi ideal untuk model ini dapat dijelaskan dengan beberapa aspek (Putri & Wibowo. 2025).
Pertama, penerapan prinsip Project Based Learning (PjBL) dalam pembelajaran seni rupa menekankan keterlibatan aktif mahasiswa dalam menyelesaikan proyek yang relevan dengan dunia nyata. Menurut Sobah, dkk. (2025), PjBL merupakan pendekatan yang mendorong peserta didik untuk belajar melalui perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi proyek berbasis pemecahan masalah. Dalam konteks seni rupa, proyek yang diberikan hendaknya relevan dengan kehidupan sehari-hari serta mengintegrasikan aspek kreativitas, teknik, dan pemahaman konsep seni.
Kedua, kolaborasi antar mahasiswa menjadi aspek penting dalam penerapan PjBL karena dapat menumbuhkan ide-ide kreatif. Menurut(Banarsari, ddk. (2025), salah satu keunggulan utama PjBL adalah kemampuannya mendorong kerja sama tim. Dalam konteks PGSD, kolaborasi antar mahasiswa memperkaya pengalaman belajar melalui pertukaran ide, diskusi, dan pemecahan masalah bersama.
Ketiga, integrasi pembelajaran berbasis keterampilan menjadi ciri khas penting dalam PjBL. Pembelajaran berbasis proyek yang efektif harus menggabungkan keterampilan kognitif, afektif, dan psikomotor (Putri, dkk. 2025). Dalam seni rupa, hal ini berarti mengintegrasikan kemampuan teknis seperti menggambar, melukis, dan membuat kerajinan dengan keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah, serta komunikasi.
Keempat, pendekatan multidisipliner juga menjadi karakteristik penting PjBL. Menurut Masruroh. (2025) pendidikan berbasis proyek sebaiknya mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu untuk menciptakan pembelajaran yang holistik dan kontekstual. Dalam konteks PGSD, proyek seni rupa dapat dikaitkan dengan mata pelajaran lain seperti matematika, bahasa, atau sains. Misalnya, proyek membuat karya seni dari bahan daur ulang dapat menggabungkan konsep geometri dari matematika serta pemahaman sifat bahan dari ilmu pengetahuan alam.
Kelima, peran dosen sebagai fasilitator sangat menentukan keberhasilan PjBL. Dosen tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing yang membantu mahasiswa dalam merencanakan, melaksanakan, dan merefleksikan proyek. Menurut Pratiwi, dkk (2025), dosen perlu menciptakan lingkungan belajar yang mendukung kreativitas, memberikan umpan balik konstruktif, serta menyediakan sumber daya yang memadai agar mahasiswa dapat bereksperimen dan mengembangkan ide secara optimal.
Secara keseluruhan, pengembangan model pembelajaran seni rupa berbasis Project Based Learning di STKIP Widyaswara Indonesia, dan Universitas Negari Padang sebaiknya mengedepankan penerapan prinsip PjBL yang melibatkan kolaborasi antar mahasiswa, pengintegrasian keterampilan teknis dan kreativitas, pendekatan multidisipliner, peran dosen sebagai fasilitator, serta penilaian yang komprehensif dan berbasis proses.
Pembelajaran yang didesain sedemikian rupa akan mempersiapkan mahasiswa untuk menghadapi tantangan di dunia pendidikan dengan keterampilan yang lebih holistik dan siap pakai. Hal ini merupakan suatu kebaharuan dalam pendidikan seni rupa yang selama ini terabaikan, papar Zulmi Aryani.
Dalam catatan Semangatnews.com Zulmi Aryani Kelahiran Lundang, Muara Labuh, Sumatera Barat 25.01. 1974 itu yang berhak menyandang gelar Doktor tersebut pernah menjadi dosen terbaik STKIP Widyaswara Indonesia (2023), Juara Harapan 1 UMKM Terbaik Kabupaten Solok Selatan (2024), Owner Azyanu Batik termasuk UMKM Unggulan di Solok Selatan, Pelatihan membatik selama 100 jam dari Kementerian Pendidikan di PKBM Permata Bunda Sangir, Solok Selatan. Narasumber dan instruktur berbagai pelatihan seni dan batik.
Kemudian Aktif dalam kegiatan pengembangan seni, pendidikan, UMKM, budaya, dan ekonomi kreatif dan mengikuti pameran seni rupa di berbagai kota di Indonesia. Kurator Magang Nusantara Yayasan Kelola Jakarta di Selasar Sunaryo Art Space Bandung (2003) dan lulusan tercepat Program Pascasarjana UNP tiga semester tahun 2004 lalu. (za/mh).

