Jakarta, Semangatnews.com – Pasar saham Indonesia mengalami penguatan tajam pada Selasa, 20 Oktober 2026, setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat tertekan hingga menembus level psikologis 5.000 pada perdagangan sebelumnya. Pemulihan ini berlangsung di tengah munculnya perhatian investor terhadap peluang investasi jangka panjang pada perusahaan-perusahaan milik negara.
Salah satu faktor yang menjadi perhatian pasar adalah pernyataan CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, yang membuka peluang penambahan investasi pada saham BUMN. Menurutnya, koreksi harga saham dapat menciptakan kesempatan bagi investor untuk mendapatkan aset dengan valuasi yang lebih menarik, selama kondisi fundamental perusahaan tetap mendukung.
Pada perdagangan pagi Selasa, IHSG tercatat melonjak lebih dari 3 persen. Data pasar menunjukkan indeks sempat menguat sekitar 3,6 persen ke level 5.177,17 pada pukul 10.10 WIB. Penguatan tersebut terjadi setelah IHSG mengakhiri perdagangan Senin di level 4.996,61, menyusul tekanan jual yang meluas di pasar domestik.
Saham-saham perbankan BUMN menjadi salah satu kelompok saham yang menonjol dalam pemulihan tersebut. BBRI, BMRI, BBNI, dan BBTN mengalami penguatan pada perdagangan pagi. Pergerakan saham berkapitalisasi besar ini turut menjadi perhatian karena memiliki bobot penting dalam pembentukan indeks saham utama.
Kenaikan juga terjadi pada saham pertambangan milik negara, termasuk ANTM, TINS, dan PTBA. Penguatan lintas sektor tersebut menunjukkan bahwa pemulihan pasar tidak hanya terkonsentrasi pada satu kelompok emiten, meskipun besarnya kontribusi setiap saham terhadap IHSG dapat berbeda.
Rosan menjelaskan bahwa Danantara melakukan analisis sebelum menentukan keputusan investasi. Penilaian tersebut mencakup valuasi perusahaan, fundamental bisnis, kondisi teknikal saham, serta persepsi pasar. Dengan pendekatan itu, keputusan pembelian tidak hanya didasarkan pada penurunan harga, tetapi juga mempertimbangkan potensi kinerja perusahaan dalam jangka panjang.
Dalam sektor perbankan, rasio price to book value atau PBV menjadi salah satu indikator yang disoroti. Rosan menyebut valuasi sejumlah bank berada di bawah satu kali nilai buku. Meski demikian, investor tetap perlu mempertimbangkan kualitas aset, profitabilitas, kebutuhan pencadangan, serta kemampuan perusahaan mempertahankan pertumbuhan bisnis sebelum mengambil keputusan.
Selain potensi kenaikan harga, pembagian dividen juga menjadi pertimbangan investasi. Rosan menyinggung potensi imbal hasil dividen Bank Mandiri dan BRI sebagai bagian dari daya tarik saham perbankan BUMN. Namun, besaran dividen di masa mendatang tetap bergantung pada keputusan pembagian laba, kinerja perusahaan, dan harga saham yang digunakan sebagai dasar perhitungan.
Di sisi lain, pemulihan IHSG berlangsung setelah pasar mengalami tekanan berat akibat kekhawatiran mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi Indonesia dalam indeks MSCI. Isu transparansi kepemilikan saham, porsi saham yang tersedia untuk publik, dan praktik perdagangan menjadi perhatian investor global. Situasi tersebut turut mendorong otoritas pasar mengambil langkah untuk membatasi tekanan jual yang berlebihan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pergerakan pasar saham dipengaruhi oleh kombinasi faktor fundamental, kebijakan, dan psikologi investor. Pernyataan mengenai peluang investasi Danantara dapat menjadi sentimen positif, tetapi tidak serta-merta membuktikan bahwa lembaga tersebut telah membeli saham tertentu dalam jumlah besar. Kepastian mengenai realisasi transaksi harus didasarkan pada informasi resmi dan data yang dapat diverifikasi.
Ke depan, keberlanjutan penguatan IHSG akan bergantung pada kemampuan pasar memulihkan kepercayaan investor dan meredakan ketidakpastian. Pelaku pasar juga akan mencermati langkah regulator dalam meningkatkan transparansi serta perkembangan keputusan investasi Danantara. Di tengah volatilitas yang masih tinggi, investor disarankan menilai setiap peluang berdasarkan fundamental, valuasi, dan toleransi risiko masing-masing.(*)

