Jakarta, Semangatnews.com – Setelah mengalami penurunan tajam hingga menembus ke bawah US$4.000 per troy ons, harga emas dunia kini menghadapi ujian untuk kembali menguat. Pergerakan logam mulia pada pekan ini menjadi perhatian investor karena dipengaruhi kombinasi kebijakan moneter Amerika Serikat, penguatan dolar, serta ketidakpastian pasar global.
Harga emas spot pada Jumat (23/10/2026) ditutup di sekitar US$3.995,52 per troy ons. Penurunan tersebut membuat emas mencatatkan koreksi mingguan lebih dari 4%, mencerminkan besarnya tekanan jual yang terjadi di pasar internasional.
Memasuki perdagangan Senin (26/10/2026), emas sempat bergerak naik tipis. Namun, kenaikan terbatas tersebut belum cukup untuk memastikan bahwa tren pelemahan telah berakhir, terutama karena pelaku pasar masih menunggu perkembangan penting dari bank sentral Amerika Serikat.
The Federal Reserve dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan pada 27–28 Oktober 2026. Keputusan dan pernyataan bank sentral itu akan menjadi perhatian utama karena dapat memengaruhi ekspektasi suku bunga, arah dolar AS, serta minat investor terhadap aset yang tidak memberikan imbal hasil berkala seperti emas.
Jika The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan pasar, emas berpotensi menghadapi tekanan tambahan. Sebaliknya, sinyal kebijakan yang lebih longgar dapat mengurangi tekanan terhadap logam mulia dan membuka peluang bagi harga untuk kembali menguat.
Selain kebijakan moneter, perkembangan harga minyak turut memengaruhi prospek emas. Kenaikan harga energi dapat meningkatkan kekhawatiran inflasi, sehingga bank sentral mungkin perlu mempertahankan kebijakan ketat untuk mengendalikan kenaikan harga barang dan jasa.
Analis juga menyoroti perubahan perilaku investor ketika pasar keuangan bergejolak. Dalam kondisi tertentu, emas memang dicari sebagai aset lindung nilai, tetapi tekanan likuiditas dapat memaksa sebagian investor menjual kepemilikannya untuk menutup kerugian atau memenuhi kewajiban perdagangan.
Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank, Ole Hansen, menilai level US$3.970 per troy ons menjadi salah satu area penting yang perlu diperhatikan untuk mengukur kekuatan harga emas. Apabila harga mampu bertahan di sekitar wilayah tersebut, peluang terjadinya pemulihan teknikal masih terbuka, meskipun belum menjamin pembalikan tren.
Hansen juga menyoroti US$4.230 per troy ons sebagai level penting untuk memperkuat indikasi bahwa fase koreksi mulai berakhir. Pergerakan menuju level tersebut akan membutuhkan dukungan pembelian yang lebih kuat serta perubahan sentimen pasar terhadap prospek suku bunga.
Di tengah tekanan jangka pendek, permintaan emas dari bank sentral masih menjadi salah satu faktor pendukung struktural. Pembelian oleh lembaga resmi dan kebutuhan investor untuk mendiversifikasi portofolio dapat membantu menopang pasar, meskipun pengaruhnya tidak selalu cukup untuk menghentikan koreksi dalam waktu singkat.
Dengan demikian, peluang kebangkitan emas masih bergantung pada sejumlah faktor yang saling berkaitan. Investor perlu memperhatikan keputusan The Fed, pergerakan dolar, harga energi, dan level teknikal utama sebelum mengambil keputusan. Pemulihan yang berkelanjutan baru dapat dinilai lebih meyakinkan apabila harga mampu menguat secara konsisten, bukan hanya mengalami kenaikan sementara setelah penurunan tajam.(*)

