Jakarta, Semangatnews.com – Penyelenggaraan konser penyanyi internasional Andrea Bocelli di Jakarta menjadi sorotan setelah diwarnai aksi demonstrasi yang berujung ricuh di kawasan JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (3/11/2026). Penolakan tersebut berkaitan dengan kontroversi mengenai dugaan dukungan sang penyanyi terhadap Israel, yang memunculkan keberatan dari sejumlah kelompok masyarakat.
Andrea Bocelli menggelar konser bertajuk Romanza 30th Anniversary World Tour Indonesia sebagai bagian dari rangkaian tur internasionalnya. Pertunjukan yang dijadwalkan berlangsung pukul 19.00 hingga 23.00 WIB tersebut tetap dilaksanakan meskipun sebelumnya terdapat desakan pembatalan dari kelompok yang menentang kehadiran penyanyi asal Italia itu.
Kontroversi tersebut sebelumnya juga mendapat perhatian Majelis Ulama Indonesia (MUI). Penolakan didasarkan pada catatan mengenai keterlibatan Andrea Bocelli dalam kegiatan penggalangan dana untuk Israel Defense Forces (IDF) pada 2010 serta penampilannya dalam konser di Tel Aviv pada 2022. Hal tersebut dinilai bertentangan dengan sikap solidaritas terhadap Palestina.
Sebelum konser berlangsung, penyelenggara melalui Shoemaker Live menyatakan bahwa pertunjukan tetap digelar sesuai rencana. Pihak promotor menyebut penyelenggaraan konser telah dikomunikasikan dengan pemerintah dan para pemangku kepentingan terkait, sekaligus diharapkan memberikan kontribusi bagi sektor pariwisata dan kebudayaan Indonesia.
Pihak promotor juga menyampaikan bahwa Andrea Bocelli ingin menyuarakan pesan kemanusiaan dan perdamaian melalui penampilannya. Selain itu, terdapat rencana kampanye sosial yang mencakup komitmen penyediaan 100.000 pasang sepatu bagi anak-anak di wilayah konflik dan kawasan terdampak perang.
Namun, penjelasan tersebut tidak menghentikan aksi penolakan. Sekitar 300 orang dilaporkan mengikuti penyampaian aspirasi di sekitar JIExpo mulai pukul 15.30 WIB. Massa menyuarakan keberatan terhadap konser dan mendesak agar kegiatan tersebut tidak dilanjutkan.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto mengatakan bahwa aparat telah berupaya mempertemukan perwakilan massa dengan pihak penyelenggara. Pertemuan dan audiensi bahkan telah dilakukan sebanyak tiga kali, tetapi tidak menghasilkan titik temu antara kedua pihak.
Setelah kelompok massa pertama membubarkan diri sekitar pukul 18.00 WIB, kelompok lainnya datang dari Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Utara, hingga Bogor. Kedatangan massa susulan tersebut membuat situasi di sekitar lokasi semakin memanas hingga terjadi pelemparan batu dan kayu terhadap petugas keamanan.
Kericuhan itu mengakibatkan 33 orang mengalami luka-luka, termasuk personel TNI, anggota kepolisian, dan masyarakat. Tiga korban masih menjalani rawat inap di rumah sakit, sementara Bahar bin Smith yang turut hadir dalam aksi tersebut juga dilaporkan mengalami luka akibat lemparan dari kelompok massa sendiri.
Meskipun terjadi insiden, konser Andrea Bocelli tetap berlangsung dengan pengamanan aparat gabungan. Kepolisian memastikan penyanyi, penonton, serta tamu undangan berhasil dievakuasi dengan aman. Tidak ada peserta aksi yang ditangkap dalam kejadian tersebut, meskipun sempat terjadi kepadatan lalu lintas ketika pengunjung meninggalkan kawasan JIExpo.
Peristiwa ini memperlihatkan bagaimana perbedaan pandangan terhadap isu internasional dapat memunculkan dinamika di ruang publik. Hak menyampaikan pendapat tetap dilindungi, tetapi pelaksanaannya perlu mengedepankan ketertiban, dialog, dan penghormatan terhadap keselamatan bersama agar perbedaan sikap tidak berkembang menjadi tindakan kekerasan.(*)

