Sekolah PAUD Kasih Ibu, Butuh Bantuan Donatur
Semangatnews, Pasaman Barat – Yusnida seorang pendiri sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kasih Ibu di Kajai Pasaman Barat membutuhkan donatur untuk membangun sebuah ruang belajar anak seluas 8×8 meter.
Tekadnya yang ingin berkarya memajukan anak-anak nagari Kajai Pasaman Barat menjadi sebuah keinginan besar yang memotuvasi untuk terus melakukan aktivitas PAUD walaupun seirang diri.
Mengelola sebuah lembaga pendidikan usia dini seorang diri tanpa memungut biaya pendidikan atau uang sekolah tentunya merupakan pekerjaan mustahil menurut pemikiran kebanyakan kita. Kecuali jika lembaga pendidikan itu milik seorang pengusaha yang kaya raya. Namun begitulah fakta dan realita yang dijalani Yusnidar sejak tahun 2013, sendirian mengelola pendidikan agama untuk anak-anak usia dini di lingkungannya meskipun kondisi keluarganya sendiri sangat sederhana.
“Berangkat dari kepedulian dan keprihatinannya melihat anak-anak di lingkungannya tidak mendapatkan pendidikan usia dini karena masyarakatnya mayoritas berpenghasilan rendah. Ada berinisiatif mendirikan Raudhatul Athfal (PAUD) Kasih Ibu, dengan mengontrak rumah papan milik tetangganya sebesar Rp 1 juta/tahun”, tutur Yusnidar kepada semangatnews.com, Jum’at malam (27/12/2019).

Yusnidar juga langsung bertindak sebagai guru tunggal yang mengajar anak-anak itu membaca Al-Quran, bacaan sholat, praktik sholat berjamaah, sholat duha, akhlak, dll. Semua itu dilakukannya tanpa memungut biaya atau uang sekolah kepada orangtua muridnya.
“Jika dipungut uang sekolah, bisa dipastikan anak-anak itu akan berhenti datang belajar”, ungkap Yusnidar.
Meskipun Yusnidar berusaha sendirian mengelola PAUD Kasih Ibu, tekad dan kesungguhan terlihat dari perjuangannya mengurus Akte Notaris sampai keluar Badan Hukum Yayasan Kasih Ibu yang dikelolanya. Pada tahun 2018, setelah perjuangan yang melelahkan, akhirnya PAUD Kasih Ibu mendapatkan akreditasi C.
Tidak hanya sampai di situ, keseriusan Yusnidar dibuktikan dengan menghibahkannya sebidang tanah miliknya, berukuran 8 x 8 m², untuk membangun ruang belajar atau lokal permanen bagi Ruang Anak Kasih Ibu.
Namun untuk saat ini belum mendapatkan bantuan pembangunan lokal dari Kemenag RI masih tekatung-katung di Kanwil Kemenag Provinsi Sumbar.
“Alhamdulillah selama ini ada bentuk perhatian pemerintah, Kemenag Sumbar memberikan tunjangan sebesar Rp 250ribu/bulan. Itupun cairnya tidak lancar. Dua bulan terakhir ini malah belum diterimanya”, ungkap Yusnidar prihatin.
Sementara itu keluarganya belum pernah mendapatkan bantuan-bantuan dari pemerintah, baik itu PKH, KIS, ataupun bantuan lainnya. Padahal rumah yang mereka tempati saja bukanlah milik pribadi, melain milik saudaranya.
Sekiranya ada tangan-tangan orang baik dan dermawan ikut turun tangan membantu dan memfasilitasi tentu tidaklah sulit untuk membangunkan sebuah ruang belajar anak-anak berukuran 8×8 tersebut.
Bagi dunsanak, para handai taulan danatur, dapat menyalurkan bantuannya melalui rekening MRPB PEDULI di BRI Cab.Pasaman Barat, no. rekening 0615-01-008410-53-1
