Satu Dewas Tidak Setuju Adanya Pemberhentian Helmy Yahya

by -
IMG_20200122_062003

Semangatnews,Jkt- Kisruh pemberhentian Helmy Yahya Dirut TVRI belum berakhir dan bahkan bergulir sampai ke Senayan. Komisi 1 DPRRI  adakan RDP dengan Dewas TVRI.

Pemberhentian Yahya tidak bulat.Satu dari lima anggota Dewas TVRI, yakni Supra Wimbarti, menyatakan dissenting opinion atau perbedaan pendapat atas pemecatan dengan hormat itu.

Supra membeberkan alasannya tidak setuju atas pemecatan Helmy. Salah satunya adalah bahwa siaran Liga Inggris adalah program andalan TVRI saat ini, yang justru sangat diidamkan TV lain.

“Kalau saya bertanya ke direksi, (Liga Inggris) ini adalah merupakan monster program atau killer program, yang tv lain swasta sebetulnya ingin membelinya,” kata Supra saat RDP dengan Komisi I di Kompleks Parlemen Senayan, Selasa (21/1/2020).

Menurut Supra, dengan keberanian Helmy Yahya, maka harga siaran Liga Inggris dapat turun dan bisa tayang di TVRI.

“Itu sebetulnya ada keinginan tv swasta lain, tapi tidak berani dengan uangnya. Di situlah peran saudara Helmy Yahya, bagaimana harga itu bisa sangat turun, itulah sebabnya saya mem-propose, mbok digali lagi oleh Dewas,” jelasnya. 

Terkait adanya potensi gagal bayar program Liga Inggris yang dibeberkan anggota Dewas yang lain, Supra menilai hal itu bisa dijelaskan apabila Dewas mau meminta penjelasan lebih detail kepada direksi. 

“Menurut direksi dan mantan dirut tidak gagal bayar, ada negosiasi tertentu yang saya tidak bisa menceritakan karena saya bukan pembela mereka, tapi itu harus di-explore lebih lanjut oleh Dewas, sebetulnya bagaimana,” ucapnya. 

Dia juga menyebut hal lain yang dipersoalkan Dewas terkait pemangkasan program berita untuk menutupi biaya Liga Inggris, Supra menyebut program berita memang selalu kurang sejak bertahun-tahun lalu. 

“Misalnya anggaran berita 2018-2020 diambil untuk diserap program lain,  saya berikan informasi anggaran direktur berita hanya seper sepuluh dari anggaran sama di TV swasta,” katanya.

“Mau ada Liga Inggris, maupun enggak ada, memang cepat habis. Memang kurang biayanya,” tambahnya.

Oleh karena itu, Supra meminta agar Dewas mengedepankan musyawarah dalam mengambil keputusan terkait dirut TVRI.

 

“Saya mohon dalam menyikapi surat pembelaan direktur utama TVRI, saya mengajak dewas memakai sila keempat pancasila, yaitu musyawarah sebagai dasar pembuatan keputusan. Namun sayangnya pada rapat kami terakhir, ditolak teman-teman saya,” ucap dia.(smngtnews/liputan6.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.