Jakarta, Semangatnews.com – Dalam sesi podcast keduanya, Deddy Corbuzier muncul dalam kondisi emosional ketika berbincang dengan Habib Umar bin Hafidz, ulama kharismatik dari Yaman yang memiliki pengaruh luas di kalangan umat Islam.
Pertemuan tersebut berlangsung di kanal YouTube “Close The Door” yang dipandu oleh Deddy, dan tayang dengan jumlah penonton yang sudah menembus lebih dari 3,6 juta views. Tampak suasana penuh ketulusan dan kekhusyukan ketika Deddy kehilangan sedikit kendali emosinya.
Deddy mengungkapkan bagaimana perjalanan spiritualnya yang tidak mudah, hingga menyentuh titik di mana ia merasa membutuhkan kehadiran figur seperti Habib Umar untuk memberikan nasihat dan ketenangan batin. Dalam momen itu, air mata muncul sebagai ekspresi dari beban yang selama ini dipikulnya.
Habib Umar merespon dengan lembut, berbicara tentang pentingnya keikhlasan, pengampunan dan bagaimana setiap manusia berhak untuk memperbaiki diri di depan Tuhan. Ia juga menyinggung bahwa air mata bukan hanya tanda kelemahan, tetapi juga tanda bahwa hati sedang berbicara.
Salah satu puncak momentum adalah ketika Deddy menanyakan bagaimana menuntun anak-anak dan keluarganya agar tidak terjerumus dalam kegundahan spiritual serta bagaimana menjadi teladan dalam kondisi populer dan terekspos. Habib Umar kemudian berbagi wawasan bagaimana kasih sayang dan ketulusan menjadi media dakwah paling efektif.
Suasana keheningan tercipta usai pertanyaan-pertanyaan berat tersebut, dengan Deddy menunduk dan menahan tangis, sementara Habib Umar masih berbicara dengan sopan dan penuh hikmah. Penonton yang menyaksikan secara langsung merasakan bahwa itulah momen yang jujur dan membuka pintu refleksi.
Klip video dari podcast itu kemudian viral di media sosial, dengan banyak netizen memuji kewibawaan Habib Umar dan keberanian Deddy untuk menunjukkan sisi manusiawinya. Banyak yang merasa terinspirasi oleh keterbukaan Deddy dan keteguhan Habib.
Pengalaman ini juga menjadi bukti bahwa pola dialog antara publik figur dan tokoh agama bisa menghadirkan ruang diskusi yang mendalam dan bermakna, bukan hanya sekadar hiburan. Publik semakin menuntut podcast-seperti ini yang memberi nilai lebih.
Meski pertemuan telah usai, resonansinya terus bergaung dalam kehidupan banyak orang, terutama yang bergulat dengan kegelisahan tentang identitas, agama, dan keluarga. Podcast tersebut dianggap bukan saja obrolan, tetapi juga dakwah ringan yang menyentuh banyak hati.
Keluar dari studio rekaman, Deddy menyampaikan bahwa ia bersyukur bisa berbicara terbuka seperti itu, dan bahwa kehadiran Habib Umar memberinya inspirasi baru dalam menjalani kehidupan sehari-hari serta menjadi refleksi atas tanggung jawabnya sebagai figur publik sekaligus ayah.(*)
