Jakarta, Semangatnews.com – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menjelaskan alasan besar dibalik peluncuran smartboard oleh Presiden Prabowo Subianto di SMPN 4 Bekasi. Menteri Abdul Mu’ti menyatakan bahwa inisiatif ini adalah bagian dari transformasi pendidikan nasional yang menjadi prioritas dalam pemerintahan saat ini.
Menurut Mu’ti, digitalisasi pendidikan bukan sekadar tren, tetapi kebutuhan mendesak. Dengan smartboard, proses belajar mengajar menjadi lebih interaktif dan menarik bagi siswa, serta memberi ruang bagi guru untuk mengeksplorasi metode pengajaran inovatif yang lebih modern. Ia menekankan bahwa ini bukan soal mengusung gadget di kelas, melainkan menata ulang cara belajar tatap muka agar lebih relevan dengan era digital.
Dalam kunjungan Prabowo di SMPN 4 Bekasi, terungkap bahwa smartboard yang diluncurkan digunakan sebagai media interaktif saat guru mengajar. Prabowo sendiri menyaksikan aksinya: duduk sebagai murid, menyimak materi lewat layar, dan menyapa para siswa dalam dialog sederhana. Gestur itu dinilai oleh Mu’ti sebagai simbol komitmen presiden terhadap pendidikan digital.
Mendikdasmen juga menjelaskan bahwa program smartboard adalah bagian dari program Hasil Terbaik Cepat (PHTC), yang mencakup revitalisasi sekolah, pelatihan guru, dan digitalisasi kelas. Program ini dirancang agar sekolah tidak hanya mendapatkan perangkat, tetapi juga dukungan agar perangkat tersebut betul-betul dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Mu’ti menyebut bahwa anggaran PHTC untuk digitalisasi pendidikan dialokasikan cukup besar, dengan fokus memberikan 15.000 satuan pendidikan fasilitas “kelas cerdas.” Smartboard menjadi salah satu komponen utama, dengan dukungan pelatihan guru agar penggunaan teknologi ini bisa berjalan maksimal dan berkelanjutan.
Namun, Mendikdasmen mengakui tantangan besar di lapangan. Beberapa sekolah yang akan menerima IFP belum memiliki koneksi internet yang stabil atau bahkan pasokan listrik yang cukup. Untuk itu, pemerintah menyiapkan dukungan agar sekolah-sekolah tersebut bisa menjalankan program digital tanpa hambatan teknis.
Mu’ti juga menyebut bahwa distribusi smartboard akan terus diperluas. Ia menargetkan setiap sekolah akan mendapatkan beberapa unit IFP dalam beberapa tahun mendatang. Menurutnya, semakin banyak smartboard di kelas, semakin besar potensi belajar interaktif bisa menyebar ke seluruh wilayah, termasuk daerah terpencil.
Tak kalah penting, Mendikdasmen menegaskan bahwa smartboard bukan pengganti guru, melainkan alat bantu pengajaran. Guru tetap menjadi pusat pembelajaran, sementara smartboard bisa mendukung penyajian materi visual, video, dan kuis interaktif yang membuat kelas lebih hidup dan menyenangkan.
Untuk memastikan efektivitas, Kemendikdasmen sudah menyiapkan mekanisme monitoring penggunaan IFP. Mereka akan mengevaluasi tidak hanya distribusi, tetapi juga frekuensi pemakaian, keterlibatan guru dan siswa, serta dampak terhadap kualitas pembelajaran dari waktu ke waktu.
Mu’ti juga memaparkan bahwa pelatihan guru adalah kunci agar program ini tidak sekadar simbol. Guru-guru akan dilatih untuk menjadi “smart teacher”, bukan hanya operator perangkat. Jika smartboard hadir tetapi guru belum siap, potensi manfaatnya bisa jauh berkurang, bahkan alat bisa tidak terpakai maksimal.
Peluncuran smartboard di SMPN 4 Bekasi, menurut Mendikdasmen, adalah langkah awal yang simbolis sekaligus strategis. Ini merupakan wujud nyata dari visi digitalisasi pendidikan, memperkuat fondasi kelas masa depan yang lebih interaktif, kreatif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.(*)
