Anak Angkat Korban G30S PKI Sukses Menjadi Letnan Jenderal
SEMANGATNEWS.COM. Dalam lembaran kelam sejarah Indonesia, nama Letjen Anumerta S. Parman dikenang sebagai salah satu Pahlawan Revolusi yang gugur dalam tragedi Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI). Namun, di balik kisah tragis itu, ada secercah cahaya yang muncul dari sosok anak angkatnya Letjen Sugiono Mangunwiyoto, seorang prajurit yang menapak tangga militer hingga menjadi jenderal bintang tiga, seolah meneruskan semangat sang ayah angkat yang gugur demi bangsa.
Letjen Sugiono bukan hanya seorang perwira tinggi, tapi juga saksi hidup dari kekejaman sejarah. Saat peristiwa G30S PKI meletus pada malam 30 September 1965, Sugiono yang kala itu berusia sekitar 17 tahun, menyaksikan sendiri penderitaan dan kekejian yang menimpa orang tua angkatnya, S. Parman. Ia merasakan kehilangan yang tak terlukiskan, ketika sang jenderal bersama enam perwira lainnya diculik, disiksa, dan dibunuh, lalu dimasukkan ke dalam sumur tua di Lubang Buaya, Jakarta Timur.
Peristiwa itu menorehkan luka yang dalam, namun juga menyalakan tekad membara di dada remaja Sugiono. Dari tragedi itu, tumbuh niat kuat untuk mengabdikan hidup di jalan militer, meneruskan cita-cita perjuangan sang ayah angkat.
Lahir pada 10 September 1948, Sugiono tumbuh menjadi sosok disiplin dan tangguh. Pada tahun 1968, ia diterima sebagai Taruna Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) dan lulus tiga tahun kemudian, 1971, dengan pangkat Letnan Dua Infanteri.
Karier militernya berjalan gemilang. Sugiono pernah menjadi Komandan Batalyon Infanteri Lintas Udara 501/Bajra Yudha di Madiun. Saat berpangkat Letnan Kolonel, ia dikenal sebagai pemimpin yang tegas dan berjiwa prajurit sejati. Tahun 1992, ia naik menjadi Komandan Brigade Infanteri Lintas Udara 17/Kujang I di Cijantung, salah satu satuan kebanggaan TNI AD yang berada di bawah Kostrad.
Setahun kemudian, kiprahnya menarik perhatian istana. Pada 1993, Sugiono dipercaya menjadi Ajudan Presiden Soeharto, menggantikan Wiranto yang dipromosikan menjadi Kepala Staf Kodam Jaya. Dalam posisi itu, ia dikenal loyal, sopan, dan berdedikasi tinggi sosok yang mencerminkan kebijaksanaan seorang prajurit matang.
Bukan hanya itu, kariernya terus menanjak: ia sempat menjabat sebagai Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) dari 1995 hingga 1997, sebuah jabatan prestisius yang menuntut kesetiaan dan kecermatan tingkat tinggi. Setelahnya, Sugiono dipercaya menjadi Sekretaris Jenderal Departemen Pertahanan, Kepala Staf Umum TNI (Kasum TNI), dan Wakil Kepala Staf TNI AD (Wakasad) pangkat tertinggi yang hanya dicapai segelintir perwira terbaik bangsa.
Dalam foto arsip tahun 1998, terekam momen bersejarah: Letjen Prabowo Subianto menggenggam tangan Letjen Sugiono di Markas Kostrad. Kala itu, Prabowo akan menggantikan Sugiono sebagai Panglima Kostrad simbol estafet kekuatan dan kehormatan di tubuh Angkatan Darat.
Kini, Sugiono dikenal juga sebagai Komisaris PT Kaltim Nitrate Indonesia, namun namanya tetap melekat sebagai anak angkat pahlawan revolusi yang mengukir prestasi luar biasa. Ia menjadi bukti hidup bahwa dari luka sejarah yang paling gelap pun, lahir kekuatan dan pengabdian yang abadi.
Letjen Sugiono telah membuktikan bahwa darah juang S. Parman mengalir bukan melalui gen, tetapi melalui nilai, teladan, dan cinta tanah air. Dari Lubang Buaya yang kelam hingga ke puncak karier militer, kisahnya adalah potret keteguhan seorang anak bangsa yang menolak kalah oleh masa lalu.
(Sumber : koranjakarta.com)
