Jakarta, Semangatnews.com – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran mengancam akan menutup total Selat Hormuz jika Amerika Serikat benar-benar menyerang fasilitas pembangkit listrik mereka. Ancaman ini muncul sebagai respons langsung atas ultimatum keras yang dilontarkan Presiden AS, Donald Trump.
Dalam pernyataannya, Trump memberi waktu 48 jam kepada Iran untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut. Jika tidak dipatuhi, Washington mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran, dimulai dari fasilitas terbesar.
Iran melalui komando militer Khatam Al-Anbiya menegaskan bahwa langkah tersebut akan dibalas secara tegas. Mereka menyatakan Selat Hormuz akan ditutup sepenuhnya dan tidak akan dibuka kembali hingga infrastruktur energi yang hancur dibangun ulang.
Ketegangan ini berakar dari konflik yang lebih luas sejak akhir Februari 2026, ketika serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel memicu balasan militer dari Iran. Konflik tersebut kini telah meluas ke berbagai wilayah di Timur Tengah.
Selain ancaman penutupan selat, Iran juga memperingatkan akan menyerang infrastruktur energi dan teknologi milik Israel serta kepentingan AS di kawasan. Negara-negara yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS pun disebut berpotensi menjadi target.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital bagi perdagangan energi dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dan gas alam cair global melewati jalur sempit ini setiap harinya.
Sejak konflik memanas, lalu lintas kapal di kawasan tersebut dilaporkan hampir terhenti. Banyak perusahaan pelayaran memilih menunda perjalanan karena tingginya risiko keamanan.
Dampak ekonomi global pun mulai terasa. Harga minyak dunia mengalami lonjakan tajam, sementara pasar keuangan menunjukkan volatilitas akibat kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi.
Di sisi lain, Iran menyatakan bahwa langkah tersebut merupakan bentuk pertahanan nasional. Teheran menegaskan tidak ingin memulai perang, namun siap membalas jika diserang.
Sementara itu, Amerika Serikat tetap bersikeras bahwa kebebasan navigasi di Selat Hormuz harus dijaga. Washington menilai jalur tersebut penting bagi stabilitas ekonomi global.
Situasi ini menempatkan dunia dalam posisi waspada, karena setiap langkah militer berpotensi memicu konflik yang lebih luas dan berdampak pada krisis energi global.(*)

