Jakarta, Semangatnews.com – Arab Saudi bersiap meluncurkan proyek mega-kereta cepat yang menghubungkan kota Jeddah di Laut Merah dengan kota Dammam di Teluk Persia, dalam upaya memperkuat jaringan logistik dan transportasi nasional.
Proyek sepanjang sekitar 1.500 kilometer ini menelan investasi besar yang disebut mencapai sekitar Rp116 triliun dan menjadi salah satu komponen utama dari rencana infrastruktur kerajaan guna mendukung visi nasional jangka panjang.
Rute tersebut akan melewati ibu kota rute utama yaitu kota Riyadh, dan diproyeksikan menghubungkan pelabuhan utama, kawasan industri, dan pusat komersial di timur dan barat kerajaan.
Dengan kereta cepat ini, waktu tempuh antara Jeddah dan Riyadh yang selama ini mencapai berjam-jam perjalanan darat akan dipangkas drastis, dan menjadi alat strategis untuk mentransfer barang dan penumpang lintas wilayah.
Kereta ini tak hanya melayani penumpang, tapi juga dirancang sebagai jalur logistik tinggi yang bisa mengangkut muatan besar dan mendukung angkutan barang antar-pantai.
Sebagai bagian dari paket besar pengembangan transportasi, proyek ini juga akan meningkatkan konektivitas lokal dan regional, memperkuat hub logistik di wilayah Arab serta menciptakan koridor pertumbuhan baru.
Namun demikian, sejumlah analis mengingatkan bahwa tantangan teknis dan lingkungan di gurun serta jarak lintas wilayah yang sangat panjang akan menjadi ujian berat bagi pelaksana proyek.
Tantangan pendanaan dan integrasi teknologi kereta cepat juga menjadi sorotan, terutama karena meskipun angka investasi besar, proyek raksasa serupa di negara lain menunjukkan risiko pembengkakan biaya dan keterlambatan.
Bagi Indonesia dan negara-lain di kawasan Asia Tenggara, proyek ini menjadi contoh bagaimana negara kaya minyak juga mulai menggeser fokus ke infrastruktur transportasi modern sebagai pilar diversifikasi ekonomi.
Dengan demikian, proyek kereta cepat dari Jeddah ke Dammam ini menandai langkah strategis Arab Saudi untuk menjadi pusat logistik utama di kawasan dan menunjukkan bahwa sektor transportasi modern akan menjadi tulang punggung ekonomi masa depan.(*)
