AS Ancam Negara yang Masih Dagang dengan Iran, Teheran: Mereka Tak Gentar

by

Jakarta, Semangatnews.com – Pemerintah Iran menepis ancaman terbaru Amerika Serikat yang meminta negara-negara lain memutus hubungan ekonomi dengan Teheran. Iran menyatakan negara-negara mitranya tidak akan mudah terpengaruh oleh tekanan Washington dan tetap memiliki kepentingan untuk mempertahankan kerja sama.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika Amerika Serikat meningkatkan kampanye tekanan ekonomi terhadap Iran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperingatkan negara yang masih melakukan hubungan finansial dengan Teheran dapat menghadapi tindakan dari Washington.

Bessent menyebut kebijakan tersebut sebagai bagian dari upaya untuk memutus jalur pendapatan Iran. Pemerintah Amerika Serikat juga menginginkan negara-negara lain ikut memberikan tekanan sehingga Teheran semakin terisolasi dari perekonomian global.

Iran menilai strategi tersebut tidak akan berjalan sesuai harapan Washington. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyebut Amerika Serikat tidak berada dalam posisi ekonomi yang cukup kuat untuk membatasi hubungan Iran dengan seluruh negara di dunia.

Menurut Ghalibaf, negara-negara yang memiliki hubungan dengan Iran memiliki kepentingan sendiri dan tidak otomatis akan mengikuti kebijakan Amerika Serikat. Teheran pun percaya hubungan perdagangan yang sudah terbentuk dapat menjadi salah satu penyangga menghadapi tekanan ekonomi baru.

Ancaman Washington menjadi serius karena Amerika Serikat berencana menggunakan sanksi sekunder terhadap pihak yang membantu aktivitas ekonomi Iran. Kebijakan semacam itu dapat membuat perusahaan dan lembaga keuangan asing harus mempertimbangkan risiko ketika melakukan transaksi dengan Teheran.

Meski demikian, sejumlah negara tetap menunjukkan sikap berbeda terhadap tekanan Amerika Serikat. China secara terbuka menolak sanksi sepihak Washington dan menyatakan hubungan kerja sama dengan Iran tidak semestinya diganggu oleh kebijakan unilateral.

China memiliki posisi penting dalam hubungan ekonomi Iran karena menjadi salah satu pembeli utama minyak dari negara tersebut. Tekanan terbaru Washington bahkan berpotensi menguji hubungan ekonomi Beijing dan Teheran, terutama apabila perusahaan-perusahaan China menghadapi ancaman sanksi Amerika.

Selain China, Rusia dan sejumlah mitra lainnya juga menjadi bagian dari jaringan hubungan internasional yang ingin dipertahankan Iran. Teheran berharap negara-negara tersebut tetap memprioritaskan kepentingan ekonomi dan hubungan bilateral dibanding mengikuti tekanan dari Washington.

Di sisi lain, sanksi baru AS diperkirakan tetap memberikan tekanan berat terhadap perekonomian Iran. Nilai mata uang Iran telah mengalami tekanan besar, sementara inflasi dan gangguan perdagangan membuat kondisi ekonomi domestik semakin sulit.

Ketegangan ekonomi tersebut berlangsung bersamaan dengan upaya diplomatik untuk meredakan konflik. Pakistan disebut berusaha memainkan peran sebagai mediator, sementara pembicaraan mengenai situasi kawasan dan Selat Hormuz masih terus menjadi perhatian internasional.

Dengan kondisi tersebut, persaingan Iran dan Amerika Serikat memasuki fase baru yang sangat bergantung pada respons negara-negara ketiga. Jika mitra utama Teheran tetap mempertahankan hubungan perdagangan, upaya Washington untuk mengisolasi Iran akan menghadapi tantangan. Sebaliknya, jika tekanan sanksi berhasil membuat negara-negara tersebut mundur, dampaknya terhadap ekonomi Iran bisa semakin besar.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.