Jakarta, Semangatnews.com – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah dua kapal perang Amerika Serikat melakukan operasi pembersihan ranjau di Selat Hormuz. Langkah tersebut langsung memicu reaksi keras dari Iran yang merasa kedaulatannya terancam.
Militer Amerika Serikat menyatakan bahwa pengerahan kapal perang itu bertujuan untuk menjaga keamanan jalur pelayaran internasional yang selama ini terganggu akibat ancaman ranjau laut. Jalur tersebut merupakan salah satu rute energi paling vital di dunia.
Menurut pihak AS, operasi ini dilakukan untuk memastikan kapal-kapal komersial dapat melintas dengan aman tanpa risiko ledakan ranjau yang disebut dipasang di kawasan tersebut.
Namun Iran dengan tegas membantah klaim tersebut dan menyatakan bahwa tidak ada kapal perang Amerika yang berhasil melintasi Selat Hormuz.
Teheran juga menegaskan bahwa pengawasan penuh atas jalur strategis itu berada di tangan militer Iran, termasuk dalam mengatur lalu lintas kapal yang melintas.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) bahkan memperingatkan bahwa setiap kapal militer asing yang mencoba memasuki wilayah tersebut akan menghadapi respons tegas.
Pernyataan ini memperlihatkan eskalasi ketegangan yang berpotensi memicu konflik terbuka jika kedua pihak tidak menahan diri.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur penting yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia, sehingga setiap gangguan di kawasan ini berdampak langsung pada ekonomi global.
Dalam beberapa pekan terakhir, kawasan tersebut memang menjadi titik panas konflik antara Iran dan Amerika Serikat, termasuk adanya laporan pemasangan ranjau dan serangan terhadap kapal.
Perbedaan klaim antara kedua negara semakin memperkeruh situasi, terutama karena terjadi di tengah upaya diplomasi yang masih berlangsung.
Dunia internasional kini menaruh perhatian besar terhadap perkembangan ini, mengingat stabilitas Selat Hormuz sangat menentukan pasokan energi global.(*)

