Jakarta, Semangatnews.com – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi persoalan di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah. Situasi ini terjadi meskipun jumlah titik panas atau hotspot dalam beberapa hari terakhir menunjukkan penurunan. Masyarakat pun masih harus menghadapi dampak asap yang menyebar di berbagai wilayah.
Berdasarkan pemantauan terbaru, jumlah hotspot yang sebelumnya berkisar 500 hingga lebih dari 1.000 titik kini berada pada angka 350 dan 365 titik dalam dua hari terakhir. Penurunan tersebut menjadi sinyal positif, tetapi belum cukup untuk memastikan bahwa kebakaran telah terkendali sepenuhnya.
Prakirawan BMKG Iskandar, Afif Rowina Khairi, menyampaikan bahwa sebaran asap masih terpantau di seluruh wilayah Kobar. Asap bergerak ke arah barat laut hingga timur laut, mengikuti dinamika atmosfer yang memengaruhi penyebarannya.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa berkurangnya hotspot tidak selalu langsung diikuti perbaikan kualitas udara. Selama asap masih berada di atmosfer dan menyelimuti kawasan permukiman, masyarakat tetap berpotensi mengalami gangguan aktivitas akibat udara yang kurang nyaman.
Salah satu faktor yang dinantikan untuk membantu mengurangi dampak karhutla adalah turunnya hujan. BMKG memperkirakan potensi hujan ringan mulai muncul secara bertahap pada dasarian ketiga Oktober 2026, atau dalam rentang 20 hingga 30 Oktober.
Wilayah utara Kobar diperkirakan menjadi kawasan yang lebih dahulu berpeluang menerima hujan. Meski begitu, prakiraan tersebut tidak berarti seluruh daerah akan diguyur hujan pada waktu bersamaan. Kondisi atmosfer dapat memengaruhi waktu, intensitas, dan luas wilayah yang mendapatkan curah hujan.
Apabila hujan turun, air yang membasahi permukaan tanah diharapkan membantu mengurangi kondisi kering yang mendukung terjadinya kebakaran. Namun, proses pemulihan diperkirakan tidak selalu berlangsung cepat, terlebih jika masih terdapat titik api di area yang sulit dijangkau petugas.
BMKG menegaskan bahwa perkembangan hotspot dan kondisi asap perlu terus dipantau secara bersamaan. Penurunan jumlah titik panas merupakan kabar baik, tetapi situasi di lapangan tetap menjadi pertimbangan penting untuk menilai sejauh mana ancaman karhutla mulai berkurang.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat diimbau mengikuti informasi resmi mengenai prakiraan cuaca dan kualitas udara. Warga juga perlu membatasi aktivitas di luar ruangan ketika asap semakin pekat serta menggunakan masker yang sesuai untuk membantu mengurangi paparan partikel asap.
Perhatian khusus perlu diberikan kepada anak-anak, lansia, dan orang yang rentan mengalami gangguan pernapasan. Jika muncul keluhan kesehatan seperti sesak napas atau iritasi yang memburuk, masyarakat sebaiknya mencari pertolongan medis sesuai kebutuhan.
Dengan potensi hujan yang diperkirakan muncul pada akhir Oktober, masyarakat berharap kondisi udara di Kobar segera membaik. Meski demikian, berakhirnya ancaman karhutla masih bergantung pada perkembangan cuaca, kondisi kebakaran, serta upaya penanganan yang terus dilakukan. Selama asap belum benar-benar menghilang, kewaspadaan tetap diperlukan.(*)

