Asia Ramai Tinggalkan Dolar AS, Rupiah Justru Terpuruk ke Level Terlemah

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Mata uang sejumlah negara Asia kompak menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat dalam beberapa waktu terakhir. Namun di tengah tren tersebut, rupiah justru bergerak berlawanan dan menjadi salah satu mata uang dengan performa paling lemah di kawasan.

Pada perdagangan terbaru, nilai tukar rupiah sempat menyentuh level Rp17.400 per dolar AS. Kondisi ini memicu perhatian pelaku pasar karena terjadi saat mata uang Asia lain seperti won Korea Selatan, baht Thailand, hingga yuan China mulai menguat.

Penguatan mata uang Asia dipengaruhi tren pelemahan dolar AS secara global setelah pasar mulai memperkirakan arah kebijakan suku bunga The Fed akan lebih longgar. Selain itu, sejumlah negara Asia juga mulai mengurangi ketergantungan transaksi terhadap dolar AS.

Indonesia sendiri sebenarnya ikut mendorong penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional. Baru-baru ini Indonesia dan China memperluas sistem pembayaran lintas batas menggunakan mata uang lokal untuk mengurangi dominasi dolar AS.

Meski demikian, rupiah masih menghadapi tekanan besar dari berbagai faktor domestik dan global. Salah satu penyebab utama ialah keluarnya dana asing dari pasar keuangan Indonesia akibat meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal dan stabilitas pasar modal nasional.

Ketegangan geopolitik global juga ikut memperburuk situasi. Konflik di Timur Tengah, termasuk perang Iran yang memanas, membuat investor global kembali memburu aset aman berbasis dolar AS sehingga mata uang negara berkembang seperti rupiah terkena tekanan berat.

Bank Indonesia pun mengambil langkah agresif untuk menjaga stabilitas rupiah. Gubernur BI Perry Warjiyo memastikan bank sentral akan melakukan intervensi besar-besaran di pasar domestik maupun offshore demi menahan pelemahan mata uang Garuda.

Selain intervensi pasar, BI juga memperketat aturan pembelian dolar AS. Ambang batas pembelian dolar tanpa dokumen pendukung diturunkan menjadi US$25.000 per bulan untuk membatasi spekulasi dan menekan permintaan dolar di dalam negeri.

Sejumlah analis menilai tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari faktor eksternal. Kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan fiskal pemerintah serta independensi bank sentral disebut ikut memengaruhi kepercayaan pasar terhadap aset Indonesia.

Di sisi lain, negara-negara Asia lain dinilai lebih berhasil menjaga arus modal asing dan stabilitas ekonominya sehingga mata uang mereka relatif lebih kuat menghadapi gejolak global. Perbedaan kondisi inilah yang membuat rupiah tampak tertinggal dibanding mata uang Asia lainnya.

Pelaku pasar kini menanti efektivitas langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah. Jika tekanan global terus berlanjut dan arus modal asing belum kembali masuk, rupiah diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dalam beberapa pekan ke depan.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.