Jakarta, Semangatnews.com – Pergerakan investor asing kembali menjadi sorotan di pasar saham Indonesia setelah mencatat aksi jual bersih atau net sell sebesar Rp1,6 triliun dalam sepekan terakhir. Aksi tersebut menandai perubahan arah setelah sebelumnya investor global sempat mencatat pembelian bersih selama tiga minggu berturut-turut.
Data perdagangan di Bursa Efek Indonesia menunjukkan bahwa periode 9 hingga 13 Maret 2026 diwarnai tekanan jual dari investor asing. Kondisi ini berbanding terbalik dengan pekan sebelumnya yang masih mencatat net buy sekitar Rp2,2 triliun.
Aksi jual tersebut terjadi di tengah pelemahan pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bahkan terkoreksi sekitar 5,9 persen dalam sepekan hingga menyentuh level 7.137,21, yang menjadi titik terendah dalam delapan bulan terakhir.
Sejumlah saham berkapitalisasi besar ikut menjadi sasaran pelepasan investor asing. Emiten perbankan seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) tercatat masuk dalam daftar saham yang paling banyak dilepas.
Selain sektor perbankan, saham milik kelompok konglomerat juga terkena tekanan jual. Beberapa emiten yang terafiliasi dengan Grup Bakrie dan taipan Prajogo Pangestu menjadi bagian dari saham yang dilepas investor global.
Di kelompok Bakrie, saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatat nilai net sell cukup besar. Total pelepasan saham kedua emiten tersebut mencapai sekitar Rp775,7 miliar dalam sepekan perdagangan.
Sementara itu, saham milik Prajogo Pangestu juga tidak luput dari aksi jual. PT Petrosea Tbk (PTRO) tercatat dilepas investor asing hingga sekitar 70 juta lembar saham dengan nilai sekitar Rp342 miliar.
Tekanan jual tersebut memperlihatkan bagaimana investor global masih berhati-hati terhadap kondisi pasar. Perubahan sentimen global dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi menjadi salah satu faktor yang memengaruhi arus dana asing di pasar saham.
Beberapa analis menilai pergerakan investor asing sering kali dipengaruhi kondisi geopolitik dunia dan arah suku bunga global. Ketika ketidakpastian meningkat, investor cenderung memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman.
Sepanjang 2026 sendiri, tekanan jual asing sebenarnya sudah beberapa kali terjadi. Data pasar menunjukkan bahwa secara kumulatif sejak awal tahun, investor asing masih mencatatkan net sell cukup besar di pasar saham domestik.
Meski demikian, pelaku pasar menilai arus dana asing bisa kembali masuk jika kondisi global mulai stabil. Perbaikan sentimen ekonomi serta potensi pertumbuhan perusahaan domestik dapat menjadi daya tarik bagi investor global.
Dengan dinamika pasar yang terus berubah, pergerakan investor asing tetap menjadi indikator penting bagi arah pasar saham Indonesia. Setiap perubahan arus dana global kerap berdampak langsung pada pergerakan IHSG dan saham-saham unggulan di bursa.(*)

