Jakarta, Semangatnews.com – Ancaman siber kembali menghantui pengguna Android setelah ditemukan malware baru bernama NoVoice yang menyebar melalui puluhan aplikasi di Google Play Store. Temuan ini memicu kekhawatiran karena platform resmi pun kini tak sepenuhnya aman.
Malware NoVoice dilaporkan telah menyusup ke lebih dari 50 aplikasi yang tersedia di Play Store. Aplikasi tersebut mencakup berbagai kategori populer seperti pembersih perangkat, galeri foto, hingga game ringan.
Yang mengkhawatirkan, aplikasi-aplikasi ini tampak normal dan berfungsi sebagaimana mestinya. Tidak ada indikasi mencurigakan seperti permintaan izin berlebihan, sehingga pengguna sulit menyadari adanya ancaman.
Menurut laporan peneliti keamanan siber dari McAfee, malware ini sudah diunduh lebih dari 2,3 juta kali. Artinya, jutaan perangkat berpotensi telah terinfeksi tanpa disadari penggunanya.
Setelah terpasang di perangkat, NoVoice akan mencoba mendapatkan akses root dengan memanfaatkan celah keamanan pada sistem Android versi lama. Jika berhasil, malware dapat mengambil alih kendali perangkat sepenuhnya.
Tak hanya itu, malware ini mampu mengumpulkan berbagai data sensitif pengguna. Informasi seperti detail perangkat, aplikasi yang terpasang, hingga data pribadi dapat dikirim ke server milik pelaku.
Salah satu target utama NoVoice adalah aplikasi pesan instan seperti WhatsApp. Malware ini dapat mencuri data penting, termasuk kunci enkripsi dan informasi akun untuk menggandakan sesi pengguna.
Lebih berbahaya lagi, NoVoice disebut memiliki kemampuan bertahan meski perangkat di-reset ke pengaturan pabrik. Hal ini membuatnya sulit dihapus, terutama pada perangkat dengan sistem keamanan yang belum diperbarui.
Meski demikian, perangkat Android yang sudah mendapatkan pembaruan keamanan terbaru relatif lebih aman dari eksploitasi utama malware ini. Namun risiko tetap ada jika pengguna menginstal aplikasi yang terinfeksi.
Google sendiri telah mengambil langkah cepat dengan menghapus aplikasi-aplikasi yang terindikasi mengandung malware tersebut dari Play Store. Namun pengguna yang sudah terlanjur mengunduh tetap perlu melakukan pengecekan manual.
Para ahli keamanan mengimbau pengguna untuk lebih berhati-hati saat mengunduh aplikasi, meskipun berasal dari platform resmi. Memeriksa ulasan, jumlah unduhan, dan reputasi pengembang menjadi langkah penting.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa ancaman digital terus berkembang dengan cara yang semakin canggih. Kewaspadaan pengguna menjadi kunci utama untuk melindungi data pribadi di era digital saat ini.(*)

