Jakarta, Semangatnews.com – Cerita seru dari layar lebar Korea Tunnel segera mendapat versi Indonesia. Aktor sekaligus produser Baim Wong menyatakan dirinya menerima tawaran remake film tersebut dan tengah mempersiapkan konsep adaptasi yang tetap memuat sentuhan lokal khas Nusantara.
Rencana ini muncul setelah kesuksesan box office film Sukma, dan Baim tampaknya ingin melanjutkan langkah inovatif di dunia perfilman Tanah Air. Ia yakin remake Tunnel bisa jadi proyek menarik bila dieksekusi dengan baik dan relevan dengan penonton Indonesia.
Menurut Baim, adaptasi bukan sekadar menyalin cerita — melainkan menerjemahkannya ke dalam konteks budaya dan psikologi lokal. Ia ingin tokoh, setting, dan konflik disesuaikan agar penonton merasa dekat dan terlibat emosional.
Film Korea Tunnel sendiri menceritakan tentang sebuah terowongan runtuh dan perjuangan karakter utama untuk keluar dari reruntuhan. Dalam versi Indonesia nanti, latar dan situasi harus disesuaikan agar tidak terasa asing, melainkan relevan di ranah nasional.
Baim mengungkapkan bahwa proses adaptasi akan melibatkan tim kreatif yang memahami film original sekaligus peka terhadap kultur Indonesia. Mereka akan menimbang elemen mana yang perlu dipertahankan dan mana yang harus dirancang ulang untuk cocok dengan selera lokal.
Meski sudah setuju dengan proyek ini, Baim belum memastikan kapan syuting akan dimulai ataupun siapa sutradaranya. Ia menyebut bahwa banyak faktor teknis — termasuk lokasi, anggaran, dan pemain — masih dalam tahap diskusi intensif.
Sebelum memutuskan, Baim juga mempertimbangkan bagaimana menghadirkan nuansa tegang dan klaustrofobik seperti versi Korea tanpa kehilangan kenyamanan bagi penonton lokal. Ia ingin penonton tetap merasa tegang tapi tidak kehilangan kenyamanan menonton.
Keputusan remake ini tentu disambut dengan antusiasme dari penggemar perfilman. Banyak yang penasaran bagaimana versi Indonesia akan menyajikan suasana terowongan yang runtuh, karakter utama yang terjebak, dan perjuangan bertahan hidup — semuanya dalam bungkus Indonesia.
Namun, tantangan itu nyata. Adaptasi film asing acap kali menghadapi kritik jika dianggap hanya “copy-paste”. Baim menyadari itu, dan berusaha memberi nilai tambah agar remake ini memiliki jiwa tersendiri, bukan sekadar tiruan.
Jika semua berjalan lancar, film ini bisa menjadi salah satu karya profil tinggi dari industri lokal. Keberhasilan adaptasi Tunnel akan membuka jalan buat proyek-proyek remake berkualitas lainnya, dengan keseimbangan antara menghormati karya original dan menghargai karakter budaya Indonesia.(*)
