Jakarta, Semangatnews.com – Kawasan kaki Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang kembali darurat banjir lahar dingin setelah hujan deras mengguyur wilayah gunung pada Jumat siang. Aliran material vulkanik bercampur air naik dengan cepat saat hujan intens menyebabkan banjir di jalur sungai vital.
BPBD Jawa Timur menyatakan bahwa luapan lahar tidak disebabkan oleh erupsi aktif, melainkan oleh hujan dengan curah tinggi yang menaikkan aliran air secara drastis. Aliran ini kemudian membawa material vulkanik dari lereng Semeru, menciptakan lahar dingin yang berpotensi menghancurkan.
Petugas pos pemantauan Gunung Semeru melaporkan satu kali letusan asap kecil pada pagi hari, tetapi letusan ini dinilai tidak signifikan dan bukan penyebab langsung banjir lahar. Fokus utama pihak berwenang saat ini adalah menangani dampak hujan ekstrem.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur, Satriyo Nurseno, menyebut bahwa amplitudo aliran lahar mencapai puncak maksimum hingga sekitar 43 mm, menandakan aliran yang sangat kuat dan berisiko bagi aktivitas di sepanjang aliran sungai.
Dua desa di Kecamatan Pasirian – yaitu Gondoruso dan Bades – menjadi daerah terparah terdampak. Sebanyak 1.211 kepala keluarga dilaporkan sempat terisolasi akibat putusnya akses jalan antardesa yang disebabkan oleh aliran lahar.
Material lahar yang terbawa aliran sangat merusak, termasuk batu besar dan lumpur halus. Akses jalan rusak parah, truk berat pun dilaporkan terjebak di medan banjir, sementara lahan pertanian warga terdampak hingga puluhan hektare.
Tim Reaksi Cepat BPBD bersama pihak desa dan relawan lokal segera turun tangan, mengatur penyeberangan warga di titik rawan dan menyediakan jalur alternatif darurat meskipun kondisi medan sangat sulit dilalui.
BPBD juga mengimbau warga yang tinggal di sepanjang aliran sungai untuk menjauh dari tepi sungai, terutama di aliran baru (gladak perak) yang rawan dilintasi lahar. Imbauan ini dikuatkan mengingat hujan masih berpotensi kembali turun di hulu Semeru.
Sementara itu, petugas pengamatan gunung menganjurkan agar masyarakat tidak melakukan aktivitas di sepanjang aliran Besuk Kobokan sejauh 20 km dari puncak Semeru, apalagi di sempadan sungai dalam jarak 500 meter dari tepi sungai, karena potensi bahaya lahar cukup tinggi.
Dalam situasi ini, pemerintah kabupaten menerapkan status siaga darurat bencana banjir dan tanah longsor guna memprioritaskan upaya penanggulangan. Koordinasi antar instansi terkait diperkuat agar evakuasi dan pemulihan akses dapat berjalan cepat.
Warga di lereng Semeru kini berada di persimpangan waspada, di mana setiap hujan deras menjadi potensi ancaman nyata. Peringatan dini lahar dingin menjadi sangat krusial untuk menjaga keselamatan masyarakat dan mencegah dampak bencana semakin besar.(*)
