Jakarta, Semangatnews.com – Artis dan selebgram Clara Shinta mengungkapkan keinginannya untuk mengakhiri pernikahan yang baru berjalan sekitar 52 hari. Ia mengaku mulai merasa lelah secara emosional karena merasa diabaikan oleh sang suami, yang menurutnya lebih sering menonton drama China daripada memberikan perhatian nyata.
Dalam sebuah podcast bersama publik figur, Clara menceritakan bahwa kebiasaan malam hari suaminya menonton cuplikan drama China berdurasi singkat menjadi titik pemicu keretakan rumah tangga mereka. Clara menyebut bahwa dirinya adalah tipe yang membutuhkan perhatian dan interaksi, sementara suaminya justru lebih asyik dengan tontonan tersebut.
Ia menambahkan bahwa meskipun sang suami melakukan gesture fisik seperti menggenggam tangannya saat perjalanan atau berada bersama, namun tidak diimbangi dengan komunikasi yang memadai atau kontak mata yang berarti. Akibatnya Clara merasa kualitas kebersamaan mereka tidak nyata.
Clara menegaskan bahwa masalah rumah tangganya bukanlah karena perselingkuhan atau kekerasan dalam rumah tangga. Ia menegaskan bahwa sang suami adalah orang yang “baik”, namun mereka disebutnya memiliki perbedaan besar dalam cara menunjukkan kasih sayang dan menyikapi hubungan sehari-hari.
Salah satu pernyataannya yang viral adalah saat ia mengatakan kepada sang suami bahwa jika dirinya memang tidak bisa menjadi yang paling diperhatikan, lebih baik ia menjadi “drama China” saja daripada istri. Ungkapan itu menjadi simbol frustrasi Clara atas kondisi yang dirasakannya saat ini.
Kondisi ini membawa Clara akhirnya memutuskan bahwa ia sudah tidak sanggup mempertahankan pernikahan tersebut. Ia menyebut bahwa upaya untuk memperbaiki sudah dilakukan namun tetap menemui jalan buntu karena terus muncul rasa tidak cocok dan tidak terpenuhinya kebutuhan emosional.
Pengamat selebritas menilai bahwa kisah Clara ini mencerminkan masalah rumah tangga generasi muda, di mana aspek perhatian dan “love language” seringkali menjadi bahan konflik. Meski terdengar ringan, ketidakseimbangan kecil dalam interaksi sehari-hari ternyata bisa menjadi pemicu besar.
Sementara banyak pihak sebelumnya melihat kehidupan rumah tangga Clara dan suami sebagai pasangan yang harmonis dan ideal karena berawal cepat dan penuh sorotan media, kini publik melihat sisi lain yakni ketegangan yang muncul di balik layar.
Clara juga mengungkap bahwa komunikasi dengan sang suami pernah mencoba dibuka, namun nada bicara sang suami yang dianggap keras dan gaya budaya yang berbeda turut menjadi hambatan yang membuat ia merasa tidak nyaman untuk jangka panjang.
Akhirnya, Clara menyatakan bahwa meskipun ia pernah berusaha keras untuk mempertahankan pernikahan, ia memilih untuk berjalan keluar dari relasi yang menurutnya tidak membuatnya bahagia secara emosional. Keputusan ini menjadi peringatan bahwa perhatian dan interaksi dalam hubungan nyata sama pentingnya dengan komitmen formal.(*)
