Batobo: Tradisi Kebersamaan Yang Masih Membudaya

by -

Batobo: Tradisi Kebersamaan Yang Masih Membudaya

Semangatnews, DharmasrayaBATOBO, dalam literatur dialektika Melayu berasal dari kata “toboyang” yang berarti rombongan anggota yang bekerja bersama-sama, bergotong royong. Menyelesaikan pekerjaan lahan sawah atau kebun secara bersama dari satu tempat ke tempat lain. Dalam praktek Tempo Doeloe lebih pada menyelesaikan lahan sawah atau ladang masing-masing anggota tobo. Sebuah kebiasaan, tradisi turun temurun dalam kultur Minangkabau, sebagai wujud solidaritas sosial terhadap sesama.

Dalam era kekinian batobo kata yang jarang terdengar, akan tetapi praktek keseharian,
tradisi budaya batobo ini masih terlihat dan hidup dalam berbagai aktivitas keseharian masyarakat nagari di Sumatera Barat.

Sebutan batobo telah banyak berubah dan bergeser menjadi kelompok. Perubahan nama ini juga membawa dampak. Ada yang bertahan dengan konsep batobo masa lalu dan ada yang bermetamorfosis menjadi sebuah kelompok tani yang berkembang.

Tersebut sebuah kelompok batobo yang berubah nama menjadi kelompok tani, dari sekian banyak kelompok batobo yang ada di Nagari Sialang Gaung kecamatan Koto Baru Dharmasraya, “Saiyo Sakato” nama kelompoknya, dengan ketua Impun (36 th), seorang ibu rumah tangga.

Pada mulanya kelompok batobo ini hanya konsen secara bergiliran menyelesaikan lahan sawah atau kebun masing-masing untuk bercocok tanam atau yang lainnya, tergantung musim. Namun makin ke sininya berubah, tidak hanya lagi menyelesaikan lahan anggota tobo, akan tetapi juga menawarkan tenaga untuk mengerjakan lahan atau kebun masyarakat sekitar.

Tidak sedikit petani yang memiliki lahan puluhan hektar memanfaatkan dan mengapresiasi cara kerja kelompok tani yang anggotanya semua wanita ini. Betapa tidak, pemilik kebun tidak perlu khawatir dengan beban makan siang atau makanan tambahannya. Dan soal upah kerja pun tak perlu bayar segera, pengurus tobo memberi tenggang waktu yang begitu panjang, hingga bulan puasa Ramadhan datang.

“Ini adalah cara kami kecil-kecil ini membantu keuangan keluarga, ganti menabung, saling membantu sesama, anggota yang kuat membantu yang lemah, saling menutupilah. Hasil atau upah yang kami terima dari batoboh bisalah untuk memenuhi kebutuhan menghadapi puasa Ramadhan dan lebaran,” ujar Impun, ketua batobo atau kelompok tani Saiyo Sakato kepada Semangat News Minggu (5/7) lalu.

Impun melanjutkan,” Toh, kalau pun nanti sebelum waktu pembagian hasil kerja, uang telah diterima pengurus batobo dari orang yang memanfaatkan tenaga kita, uang itu juga bisa dipakai oleh anggota yang membutuhkan. Tidak kurang satu sampai tiga kali seminggu kami sejumlah rata-rata 15 orang dari 28 orang anggota pergi ke ladang atau sawah orang lain untuk bekerja, sisa nya ke sawah atau ladang masing-masing,” tukuk Impun yang sedang berjuang bersama suaminya menyelesaikan kuliah anaknya di salah satu universitas swasta di Dharmasraya.

“Dengan model inilah kami orang kecil membantu orang-berada, orang-orang kaya yang memiliki kebun luas, tak perlu bayar sekarang, besok juga tidak apa-apa,” jelasnya tersenyum.

Ya’kub (59 th) salah seorang tokoh masyarakat Sialang Gaung mengatakan,” Betapa terbantunya masyarakat dengan kelompok tobo ini, banyak teman beliau menelpon minta bantuan tenaga kelompok atau batobo untuk membersihkan kebun sawit atau kebun karet milik mereka, kadang perlu antri untuk beberapa minggu ke depan, karena jadwal anggota toboh itu telah terisi,” jelasnya.(rsy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.