Jakarta, Semangatnews.com – Di tengah gejolak krisis energi global, Indonesia justru dinilai memiliki ketahanan yang cukup kuat. Salah satu faktor utama yang menopang kondisi ini adalah melimpahnya sumber daya batu bara domestik.
Produksi batu bara dalam negeri menjadi tulang punggung pasokan energi nasional. Komoditas ini bahkan menyumbang sekitar 48 persen dari total konsumsi energi akhir Indonesia.
Kondisi tersebut membuat Indonesia tidak terlalu bergantung pada impor energi, terutama minyak dan gas dari luar negeri. Hal ini menjadi keuntungan besar di tengah ketidakpastian global.
Laporan lembaga keuangan global J.P. Morgan menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara paling tahan terhadap guncangan energi dunia.
Dalam laporan tersebut, Indonesia mencatat tingkat ketahanan energi yang tinggi dengan indikator khusus yang mengukur kemampuan negara menghadapi fluktuasi global.
Kekuatan utama Indonesia berasal dari kombinasi energi domestik seperti batu bara, gas, dan energi terbarukan. Namun, batu bara tetap menjadi kontributor terbesar.
Selain itu, Indonesia juga memiliki tingkat ketergantungan yang sangat rendah terhadap jalur distribusi energi global seperti Selat Hormuz, yang kerap menjadi titik rawan konflik.
Kondisi ini membuat dampak krisis energi global terhadap Indonesia relatif lebih terkendali dibandingkan negara lain yang sangat bergantung pada impor.
Meski demikian, pemerintah tetap mendorong upaya diversifikasi energi. Transisi menuju energi baru terbarukan menjadi salah satu fokus utama kebijakan jangka panjang.
Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan di masa depan.
Dengan kombinasi sumber daya yang kuat dan kebijakan yang terarah, Indonesia dinilai memiliki posisi strategis dalam menghadapi krisis energi global yang masih berlanjut.(*)

