Jakarta, Semangatnews.com – Isu hubungan antara kelebihan berat badan dan risiko serangan jantung kembali menjadi perbincangan hangat. Banyak orang percaya bahwa tubuh gemuk otomatis berisiko tinggi mengalami penyakit jantung. Namun, menurut dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, faktanya tidak sesederhana itu. Risiko penyakit jantung tidak hanya dipengaruhi oleh berat badan semata, tetapi oleh kombinasi dari sejumlah faktor kesehatan lain yang saling berkaitan.
Menurut dokter yang diwawancarai, berat badan berlebih atau obesitas memang sering berkaitan dengan kondisi yang meningkatkan risiko serangan jantung, seperti tekanan darah tinggi, kadar kolesterol tidak sehat, dan resistensi insulin. Namun bukan berarti setiap orang gemuk pasti akan mengalami infark jantung. Ini lebih kepada pola risiko yang berkembang seiring waktu.
Secara medis, salah satu persoalan utama yang menjadi perhatian adalah bagaimana lemak tubuh, terutama lemak di sekitar perut, memengaruhi metabolisme. Lemak viseral yang menumpuk di perut dikenal lebih berbahaya dibanding lemak di area tubuh lain karena berperan aktif dalam pelepasan zat inflamasi yang dapat merusak pembuluh darah dan memicu proses aterosklerosis.
Aterosklerosis sendiri adalah penumpukan plak di dinding arteri yang menjadi penyebab umum serangan jantung. Plak yang menumpuk menghambat aliran darah ke jantung sehingga saat kebutuhan oksigen meningkat — seperti saat beraktivitas berat — jantung bisa kekurangan pasokan darah dan memicu serangan.
Namun dokter juga menekankan bahwa beberapa orang dengan indeks massa tubuh (BMI) tinggi justru memiliki profil metabolik yang baik, seperti kadar kolesterol yang normal dan tekanan darah stabil. Kondisi ini disebut fenomena metabolically healthy obesity (MHO). Meskipun demikian, MHO bukan berarti bebas risiko — hanya saja risikonya tidak setinggi mereka yang obesitas dengan gangguan metabolik.
Selain itu, ada pula orang berberat badan normal yang memiliki risiko tinggi penyakit jantung karena faktor lain seperti gaya hidup tidak sehat, pola makan tinggi lemak jenuh, kurang aktivitas fisik, merokok, atau riwayat keluarga. Ini menunjukkan bahwa berat badan hanyalah satu bagian dari keseluruhan gambaran kesehatan jantung.
“Yang perlu kita waspadai adalah akumulasi risiko,” jelas dokter tersebut. “Kelebihan berat badan dapat memicu beberapa kondisi lain seperti diabetes tipe 2 dan hipertensi yang masing‑masing bisa mempercepat risiko penyakit jantung bila tidak dikontrol.”
Dokter tersebut juga mengingatkan pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin. Pemeriksaan tekanan darah, kadar gula darah, profil lipid (lemak darah), serta evaluasi fungsi jantung secara berkala bisa membantu mendeteksi faktor risiko lebih awal. Deteksi dini akan memudahkan intervensi medis dan perubahan gaya hidup yang lebih cepat.
Dari sisi pencegahan, dokter menganjurkan pola makan sehat yang kaya serat, sayur, buah, serta lemak sehat seperti yang ditemukan dalam ikan, alpukat, dan kacang‑kacangan. Mengurangi konsumsi makanan tinggi gula dan lemak trans juga disebut penting untuk menjaga kesehatan jantung dalam jangka panjang.
Aktivitas fisik tidak kalah pentingnya. Latihan aerobik seperti berjalan cepat, bersepeda, atau berenang minimal 150 menit per minggu mampu membantu mengatur berat badan, meningkatkan sensitivitas insulin, dan menurunkan tekanan darah serta kadar kolesterol. Kebiasaan ini secara keseluruhan membantu menurunkan risiko serangan jantung.
Tidak kalah penting, faktor psikososial seperti stres kronis juga dapat memengaruhi kesehatan jantung. Stres berkepanjangan dapat mengubah pola hormon dan tekanan darah, yang pada gilirannya turut meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Teknik manajemen stres seperti meditasi, tidur cukup, dan aktivitas rekreasional dapat membantu mengurangi dampaknya.
Dengan gambaran tersebut, dokter menegaskan pentingnya pendekatan holistik terhadap kesehatan — bukan hanya mengukur dari angka berat badan. Perawatan kesehatan yang komprehensif akan memperhatikan seluruh aspek: nutrisi seimbang, aktivitas fisik, pemeriksaan medis berkala, serta pengelolaan faktor risiko lain seperti merokok dan stres.
Kesimpulannya, meskipun orang gemuk memiliki kecenderungan lebih tinggi mengalami serangan jantung, risiko tersebut sangat tergantung pada bagaimana kondisi tubuh lain berinteraksi. Pemantauan kesehatan yang baik dan gaya hidup sehat tetap menjadi kunci utama agar setiap orang — tanpa memandang ukuran tubuh — dapat menjaga jantung tetap kuat dan sehat.(*)
