Bila Warga Ditinggalkan Pimpinannya Oleh Zulnadi/Pemred Semangatnews

oleh -

Bila Warga Ditinggalkan Pimpinannya
Oleh Zulnadi/Pemred Semangatnews

Berhalangannya seorang pemimpin dalam sebuah kegiatan, adalah hal yang wajar dan manusia sekali. Sebab pemimpin itu juga manusia biasa yang banyak hal menyebabkan Ia tak bisa hadir dalam suatu acara yang sudah dikemas jauh hari.

Ketidak hadiran pemimpin itu bisa saja, karena Ia atau keluarganya sakit. Atau ada kegiatan yang lebih penting dari kegiatan sebelumnya. Jika ini yang terjadi rakyat atau warganya sangat dapat menerima.

Namun bila kegiatan itu dikemas oleh staf dan warganya sendiri seperti pelaksanaan Sholat Idul Adha di sebuah lapangan justeru Ia menjadi khatib di daerah lain.

Inilah yang terjadi di kota Padang, yang pemimpinnya berbilang bulan baru dilantik, justeru menjauh dari rakyatnya.

Pelaksanaan Sholat Id di lapangan Imam Bonjol Padang tanpa kehadiran Wako Mahyeldi Ansharullah termasuk juga wakilnya Hendra Septa.

Sekda yang mewakili Walikota menyebutkan dengan mengawali permohonan maaf, bahwa Walikota tidak bisa bersama sama jemaah kali ini lantaran Ia menjadi Khatib di Sijunjung.

Begitu juga dengan wakil Walikota, tapi Sekda tidak menyebut dimana dan kemana Hendra Septa itu.

Menjadi khatib di tempat lain, tidak ada larangan. Apalagi, kalau isi khutbahnya itu berbobot.

Namun secara ilmu kepemimpinan adalah kurang elok. Warga atau rakyatnya ingin bersama sama dengan pemimpinnya sholat di lapangan dan mendengarkan pidato dan sekalian ajakan untuk membangun kota Padang yang dicintai ini.

Warga merindukan itu, terlebih pada moment hut kota Padang ke 350..Tentu banyak harapan kepada pemimpinnya.

Dengan usia 350 tahun jangan dianggap kota Padang sudah selesai. Banyak yang perlu dibenahi dan itu memerlukan dukungan dan pengorbanan warga.

Salah satu yang perlu disegerakan adalah bagaimana mengurai kemacetan pada jam jam sibuk. Bagaimana menertibkan angkutan kota yang hingga kini tidak berterminal.

Jumlah kendaraan bagaikan cendawan tumbuh di musim hujan.

Tidakkah terpikirkan untuk membuat jalan layang pada persimpangan padat lalulintas
Bagaimana mengantisipasi pertumbuhan pemukiman yang tidak terbendung. Mengendus lahan pertanian semakin sempit, dan lain sebagainya.

Pekerjaan pemimpin jangan terbelenggu dengan rutinitas birokrasi belaka, akan tetapi perlu terobosan dan inovasi, sejalan dengan kemajuan warganya.
Meninggalkan warga untuk kemajuan kota ini, dapat diterima. Akan tetapi meninggalkan rakyat lantaran mengisi khutbah di tempat lain, ini yang menjadi persoalan. Pasti tersinggung perasaan pemilih kota Padang. Bravo Kota Padang HUT ke 350.