Jakarta, Semangatnews.com – Harga Bitcoin kembali mencuri perhatian pasar global setelah melonjak signifikan dan menembus kisaran Rp 1,2 miliar pada perdagangan Sabtu (11/4/2026). Kenaikan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana gencatan senjata dengan Iran.
Berdasarkan data perdagangan terbaru, Bitcoin diperdagangkan di level sekitar US$72.793 atau setara Rp 1,2 miliar. Angka tersebut menunjukkan penguatan meski tidak terlalu besar dalam 24 jam terakhir.
Kenaikan ini dipicu oleh sentimen positif dari meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Investor global mulai kembali masuk ke aset berisiko, termasuk kripto, setelah kekhawatiran konflik mereda.
Analis menilai bahwa pergerakan Bitcoin saat ini lebih dipengaruhi faktor makro global dibandingkan faktor internal kripto itu sendiri. Stabilitas geopolitik menjadi salah satu pendorong utama perubahan sentimen pasar.
Tidak hanya Bitcoin, sejumlah aset kripto lain seperti Ethereum dan Solana juga mengalami kenaikan. Hal ini menunjukkan bahwa pasar kripto secara keseluruhan mendapat dorongan positif dari situasi global.
Selain sentimen geopolitik, faktor teknikal juga turut mendukung kenaikan harga. Bitcoin berhasil menembus level penting yang menjadi sinyal penguatan tren dalam jangka pendek.
Di pasar derivatif, terjadi likuidasi posisi short dalam jumlah besar yang memicu aksi beli berantai. Kondisi ini mempercepat laju kenaikan harga Bitcoin dalam waktu singkat.
Meski tren saat ini terlihat bullish, para analis mengingatkan bahwa pergerakan Bitcoin tetap sangat fluktuatif. Harga bisa berubah cepat jika kondisi global kembali memburuk.
Jika gencatan senjata tidak bertahan lama dan konflik kembali memanas, Bitcoin berpotensi mengalami koreksi ke level lebih rendah. Risiko ini masih menjadi perhatian utama investor.
Sebaliknya, jika stabilitas global terus terjaga, Bitcoin berpeluang melanjutkan penguatan hingga menembus level yang lebih tinggi dalam waktu dekat.
Dengan dinamika yang cepat, investor diimbau untuk tetap waspada dan tidak hanya mengandalkan sentimen sesaat dalam mengambil keputusan investasi.(*)

