Jakarta, Semangatnews.com – Penyelidikan atas kecelakaan pesawat jet pribadi yang menewaskan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Libya, Letnan Jenderal Mohammed Ali Ahmed Al‑Haddad, mendapat titik terang setelah otoritas Turki berhasil menemukan kotak hitam dan perekam suara kokpit dari pesawat tersebut. Temuan ini diharapkan menjadi kunci untuk mengungkap penyebab tragedi yang mengguncang hubungan diplomatik kedua negara.
Pesawat jenis Falcon 50 yang membawa Al‑Haddad dan tujuh orang lainnya jatuh di dekat Ankara ketika sedang dalam perjalanan pulang ke Tripoli setelah rombongan militer Libya melakukan kunjungan resmi di ibu kota Turki. Semua penumpang dilaporkan tewas dalam insiden tersebut, termasuk empat ajudan dan tiga kru pesawat.
Kecelakaan terjadi beberapa menit setelah pesawat lepas landas dari Bandara Esenboğa. Menurut pejabat Turki, pesawat sempat mengirimkan sinyal darurat karena dilaporkan mengalami gangguan listrik sebelum akhirnya hilang dari radar dan jatuh di wilayah distrik Haymana, selatan Ankara.
Tim penyelamat dan pemulihan telah bekerja intensif di lokasi kecelakaan yang luasnya mencapai sekitar tiga kilometer persegi. Mereka menemukan perekam suara kokpit pada dini hari dan tak lama kemudian berhasil mengevakuasi kotak hitam dari puing pesawat, yang kini akan dianalisis lebih lanjut.
Pihak berwenang Turki menyatakan proses analisis terhadap data perekam suara dan pengendali penerbangan akan dilakukan di negara netral untuk memastikan transparansi dan kredibilitas hasil investigasi, meskipun dapat memakan waktu beberapa bulan.
Presiden Turki dan pejabat tinggi Libya telah menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban serta pemerintah dan rakyat Libya. Negara Afrika Utara itu menetapkan masa berkabung nasional selama tiga hari sebagai bentuk penghormatan terhadap Al‑Haddad, yang merupakan salah satu tokoh militer paling berpengaruh di negara tersebut.
Kecelakaan ini terjadi di tengah hubungan strategis yang kuat antara Libya dan Turki, terutama dalam konteks kerja sama militer dan pertahanan. Al‑Haddad dikenal berperan penting dalam upaya mempersatukan kembali struktur militer yang terpecah di Libya pascaperang saudara.
Selain Al‑Haddad, beberapa perwira tinggi lainnya yang ikut rombongan juga tewas, termasuk Kepala Pasukan Darat dan pejabat penting lainnya dalam jajaran militer Libya. Tragedi ini memberikan dampak emosional yang mendalam bagi institusi militer Libya dan proses stabilisasi negara secara keseluruhan.
Analisis awal menunjukkan bahwa gangguan listrik yang dilaporkan sebelum kecelakaan mungkin bukan satu‑satunya faktor penyebab. Kombinasi kondisi teknis dan cuaca juga diduga menjadi pemicu, tetapi data dari kotak hitam diharapkan memberikan gambaran lebih akurat mengenai rangkaian kejadian sebelum pesawat jatuh.
Keluarga korban serta delegasi Libya telah berada di Ankara untuk memantau proses penyelidikan dan membantu koordinasi repatriasi jenazah. Turki mengerahkan ratusan personel dari berbagai instansi untuk mempercepat upaya pemulihan di lokasi kecelakaan.
Investigasi oleh pihak berwenang Turki kini memasuki tahap lanjut. Penyidik dari kantor kejaksaan di Ankara dilibatkan untuk memastikan seluruh aspek teknis, operasional, dan prosedural dianalisis secara menyeluruh demi menghasilkan laporan yang komprehensif.
Dengan ditemukannya black box, harapan publik internasional kini tertuju pada hasil pemeriksaan yang dapat menjelaskan secara ilmiah kronologi kejadian serta faktor penyebab kecelakaan. Temuan ini diharapkan membantu dunia penerbangan mencegah terulangnya tragedi serupa di masa depan.(*)
