Jakarta, Semangatnews.com – Perekonomian Indonesia kembali menjadi sorotan dunia setelah dinilai tetap tangguh di tengah tekanan global. Bahkan, International Monetary Fund disebut sempat kebingungan melihat performa ekonomi Tanah Air yang stabil.
Hal ini diungkapkan langsung oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menjelaskan bahwa banyak pihak global mempertanyakan bagaimana Indonesia mampu bertahan di tengah konflik dan ketidakpastian ekonomi dunia.
Menurut Purbaya, kekuatan utama ekonomi Indonesia terletak pada fondasi domestik yang solid. Konsumsi masyarakat yang tetap tinggi menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Selain itu, pemerintah juga terus mendorong investasi dalam negeri untuk memperkuat struktur ekonomi. Langkah ini dinilai mampu mengurangi ketergantungan terhadap faktor eksternal yang sering kali tidak stabil.
Purbaya menegaskan bahwa strategi Indonesia tidak hanya bergantung pada ekspor, tetapi juga memperkuat sektor riil. Dengan demikian, ekonomi tetap bergerak meski kondisi global sedang melemah.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga daya beli masyarakat. Kebijakan fiskal diarahkan agar masyarakat tetap memiliki kemampuan konsumsi yang kuat, sehingga roda ekonomi terus berputar.
Di hadapan para pejabat IMF, Purbaya menjelaskan bahwa Indonesia tidak sepenuhnya mengikuti pola ekonomi konvensional global. Pendekatan yang lebih adaptif justru menjadi kunci keberhasilan.
Menariknya, IMF disebut cukup terkejut dengan pendekatan tersebut. Mereka mempertanyakan bagaimana Indonesia bisa tetap tumbuh di tengah kondisi global yang penuh tekanan.
Purbaya juga menegaskan bahwa Indonesia tidak terlalu bergantung pada utang luar negeri. Hal ini membuat ekonomi nasional lebih tahan terhadap gejolak eksternal.
Selain itu, stabilitas sektor keuangan juga menjadi faktor penting. Sistem perbankan yang kuat membantu menjaga kepercayaan investor dan pelaku usaha.
Dengan berbagai strategi tersebut, Indonesia dinilai mampu menjaga pertumbuhan ekonomi secara konsisten. Penjelasan Purbaya pun menjadi jawaban atas “kebingungan” IMF terhadap ketahanan ekonomi RI.(*)

