Jakarta, Semangatnews.com – Akhir pekan Halloween tahun 2025 mencatat rekor suram bagi industri film Amerika Serikat. Pendapatan box office domestik dilaporkan mencapai angka paling rendah dalam 27 tahun terakhir, sebuah pertanda bahwa gelombang antusiasme horor musim Halloween meredup.
Data yang dirilis oleh Box Office Mojo menunjukkan bahwa dalam periode tersebut total pendapatan bioskop di AS hanya sekitar US$49 juta. Angka ini adalah yang paling kecil untuk periode Halloween sejak catatan mulai dibuat — bahkan tidak termasuk masa pandemi 2020 ketika bioskop banyak tutup.
Menurut laporan, film-film horor yang biasanya mendominasi saat Halloween nyaris tak mampu menarik penonton seperti dulu. Salah satu judul yang menjadi sorotan adalah Regretting You yang menduduki puncak tangga box office akhir pekan itu, namun pendapatannya disebut “melemah” dibanding ekspektasi di masa sebelumnya.
Analis industri menyoroti beberapa faktor penyebab — dari kelelahan pasar terhadap franchise horor yang berulang, kompetisi dari streaming yang makin kuat, hingga perubahan perilaku konsumen yang lebih memilih tontonan rumahan.
Di satu sisi, performa film horor memang tidak sepenuhnya buruk, namun secara agregat gelombang penonton bioskop saat Halloween kali ini jauh dari antusiasme yang biasa terjadi. Hal ini menjadi alarm bahwa musim horor besar tak lagi menjamin lonjakan box office.
Beberapa pelaku industri produksi menyatakan bahwa kondisi ini mungkin menandai pergeseran paradigma dalam konsumsi hiburan. Bioskop yang selama ini mengandalkan musim-spesifik seperti Halloween kini dihadapkan pada realitas bahwa strategi lama mungkin sudah kurang efektif.
Direktur distribusi salah satu studio besar di AS menyebut bahwa pihaknya kini mengevaluasi ulang peluncuran film horor besar dan mencari strategi baru—termasuk memperpendek masa tayang eksklusif di bioskop dan melakukan kampanye pemasaran digital yang lebih masif.
Dampak bagi bioskop lokal dan jaringan besar juga terasa. Dengan okupansi yang rendah, banyak pemilik bioskop yang mengaku harus mempertimbangkan biaya operasional dan tayangan alternatif agar tetap bertahan.
Sementara itu, bagi industri film internasional termasuk di Indonesia, kenyataan ini bisa menjadi sinyal bahwa model rilis global harus diperkuat dan tidak hanya bergantung pada gelombang musiman seperti Halloween semata.
Dengan demikian, Halloween 2025 bukan hanya soal seram atau kostum, tetapi juga soal tantangan nyata bagi bioskop — bahwa penonton kini punya pilihan lebih kaya dan musim besar saja mungkin tidak cukup untuk menjamin tiket terjual laris.(*)
