BPS Rilis Indeks Pembangunan Manusia Sumbar 2016

by -
SEMANGAT SUMBAR – Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat (Sumbar) merilis angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) provinsi itu 2016 sebesar 70,73 atau telah melampaui angka nasional yang hanya 70,18.
Ini artinya pembangunan manusia di Sumbar pada 2016 mengalami kemajuan karena terjadi peningkatan indeks 0,75 poin dibandingkan 2015 yang hanya 69,98, kata Kepala BPS Sumbar, Sukardi di Padang, Jumat (5/5/2017).
Ia menjelaskan IPM merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur keberhasilan pemerintah dalam membangun kualitas hidup manusia, yang juga merupakan salah satu komponen pemerintah dalam penentuan dana alokasi umum serta penghitungan dana insentif daerah.
IPM mengambarkan bagimana penduduk dapat mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan dan lainnya, ujar dia.
Ia menerangkan IPM dibentuk oleh tiga dimensi dasar yaitu umur panjang dan hidup sehat atau angka harapan hidup saat lahir, pengetahuan yang dilihat dari rata-rata lama sekolah dan harapan lama sekolah serta standar hidup layak yang diukur dari pengeluaran per kapita.
Untuk angka harapan hidup saat lahir di Sumbar telah mencapai 68,73 tahun atau naik 1,14 tahun selama periode 2010 hingga 2016, ujar dia.
Sementara harapan lama sekolah di Sumbar telah mencapai 13,79 yang artinya anak-anak di Sumbar berpeluang menamatkan pendidikan hingga lulus diploma dan rata-rata lama sekolah mencapai 8,59 tahun atau setara dengan kelas II SMP.
Kemudian pengeluaran per kapita warga Sumbar pada 2016 mencapai Rp10,1 juta per tahun atau meningkat 1,35 persen per tahun sejak enam tahun terakhir, kata dia.
Sukardi menyampaikan IPM Sumbar 2016 tersebut sudah berstatus tinggi atau mengalami peningkatan dibandingkan 2015 yang saat itu berstatus sedang.
Jika dilihat dari IPM menurut kabupaten dan kota Kabupaten Kepulauan Mentawai merupakan daerah dengan IPM terendah di Sumbar yaitu 58,27 dan yang tertinggi kota Padang 81,06 .
Ada tiga daerah yang peningkatan IPM paling tinggi yaitu Sawahlunto 1,41 persen, Kabupaten Pasaman Barat 1,18 persen dan Sijunjung 1,09 persen, ujarnya.
Sebaliknya tiga daerah dengan pertumbuhan IPM paling lambat adalah Payakumbuh sebesar 0,18 persen, Kota Solok 0,31 persen dan Kota Bukittinggi 0,50 persen, lanjut dia.
Sebelumnya pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Padang (UNP) Prof Jamaris Jamna menilai kualitas pendidikan di daerah itu belum merata, terlihat dengan hanya beberapa daerah yang memperlihatkan prestasi, sedangkan lainnya belum terlihat.
“Hanya beberapa daerah saja yang memiliki kualitas dan sering muncul ke permukaan dengan prestasinya antara lain Kota Bukittinggi, Padang Panjang, Sawahlunto, dan Kota Padang,” katanya.
Ia menilai selama ini untuk pemerataan pendidikan pemerintah daerah hanya mengutamakan pembangunan, dan perbaikan sarana dan prasarana fisik, sementara bidang Sumber Daya Manusia (SDM) belum terlihat.
“Karena itu diperlukan strategi-strategi yang matang dan program yang mumpuni agar daerah lain yang belum memperlihatkan prestasi dapat meningkatkan kualitas pendidikan,” tambahnya. (sumber antara news)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.