Bukan China, AS Kini Jadi Kreditor Terbesar Kedua RI: Utang Naik 11,8 Persen

by

Jakarta, Semangatnews.com – Amerika Serikat kini semakin memperlebar jarak dengan China dalam daftar negara pemberi utang kepada Indonesia. Data Juni 2026 menunjukkan utang Indonesia kepada AS mencapai US$29,54 miliar, sementara utang dari China berada di level US$25,69 miliar.

Posisi tersebut menempatkan AS sebagai kreditor terbesar kedua Indonesia setelah Singapura. Pada periode yang sama, utang Indonesia kepada Singapura tercatat sebesar US$51,07 miliar meskipun mengalami penurunan sekitar US$1,59 miliar dibandingkan bulan sebelumnya.

Kenaikan utang dari AS menjadi salah satu perubahan mencolok dalam struktur kreditur Indonesia. Dalam satu bulan, nilainya bertambah US$1,53 miliar atau sekitar 5,46 persen dari posisi Mei 2026 yang sebesar US$28,01 miliar.

Sebaliknya, kenaikan utang dari China relatif kecil. Pada Juni, utang Indonesia kepada Negeri Tirai Bambu hanya bertambah sekitar US$90,9 juta atau 0,36 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Perbedaan laju pertumbuhan tersebut membuat selisih utang Indonesia kepada AS dan China semakin besar. Jika pada Mei selisihnya sekitar US$2,41 miliar, pada Juni angka tersebut melebar menjadi sekitar US$3,85 miliar.

Kinerja secara tahunan juga memperlihatkan pola yang sama. Utang dari AS tumbuh 11,8 persen dibandingkan Juni 2025, sedangkan utang dari China tumbuh sekitar 7,3 persen. Dengan demikian, peningkatan pembiayaan dari AS berlangsung lebih cepat.

Meski demikian, sebagian besar utang dari kedua negara bukan berasal dari pemerintah. Sektor swasta menjadi penyumbang terbesar, dengan utang kepada AS mencapai sekitar US$29,24 miliar dari total US$29,54 miliar.

Pada China, sektor swasta juga mendominasi dengan posisi utang sekitar US$24,29 miliar dari total US$25,69 miliar. Data ini menunjukkan bahwa peningkatan utang dari kedua negara terutama berkaitan dengan kebutuhan pembiayaan dunia usaha.

Perubahan tersebut terjadi di tengah posisi total ULN Indonesia yang mencapai US$453,37 miliar pada Juni 2026. Nilai itu meningkat sekitar 4,4 persen secara tahunan dari posisi Juni 2025 yang berada di level US$434,17 miliar.

Secara bulanan, total ULN Indonesia juga bertambah US$8,32 miliar. Namun, kenaikan tersebut perlu dicermati karena utang pemerintah dan swasta justru mengalami penurunan, sementara lonjakan terbesar berasal dari posisi utang Bank Indonesia.

Di tengah perubahan komposisi kreditur tersebut, Singapura masih menjadi sumber utang terbesar Indonesia. Setelah itu, AS berada di urutan kedua, China ketiga, Jepang keempat dengan US$21,22 miliar, dan Hong Kong di posisi kelima dengan US$19,86 miliar.

Meningkatnya utang dari AS dibandingkan China tidak serta-merta menunjukkan ketergantungan Indonesia terhadap salah satu negara. Struktur ULN perlu dilihat secara menyeluruh, termasuk siapa debiturnya, jenis pembiayaan, mata uang, tenor, serta kemampuan menghasilkan pendapatan untuk memenuhi kewajiban. Dengan pengelolaan yang tepat, pembiayaan luar negeri tetap dapat menjadi salah satu sumber pendukung aktivitas ekonomi dan investasi nasional.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.