Jakarta, Semangatnews.com – Pasar logam mulia global menghadapi tekanan setelah harga emas dan perak mengalami penurunan secara bersamaan. Penguatan dolar Amerika Serikat (AS), kenaikan harga energi, dan ketidakpastian kebijakan suku bunga menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi keputusan investor dalam menempatkan dananya.
Pada Senin, 12 Oktober 2026, harga emas spot ditutup melemah sekitar 0,6 persen ke level US$ 4.169,10 per troy ons. Harga tersebut turun setelah emas sempat mencapai posisi tertinggi dalam sepekan, memperlihatkan bahwa sentimen positif sebelumnya belum cukup kuat untuk mempertahankan kenaikan.
Tekanan yang lebih besar juga terlihat pada perdagangan perak. Harga perak spot turun sekitar 1 persen menjadi US$ 60,22 per troy ons. Pergerakan ini memperlihatkan bahwa kedua logam mulia tersebut masih rentan terhadap perubahan kondisi ekonomi dan ekspektasi pasar keuangan.
Penguatan dolar AS menjadi salah satu penyebab penting di balik pelemahan tersebut. Ketika dolar berada di level tinggi, harga komoditas yang diperdagangkan dalam mata uang itu menjadi lebih mahal bagi pembeli dari negara lain, sehingga berpotensi mengurangi permintaan.
Faktor berikutnya adalah ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve. Investor tengah menunggu data inflasi terbaru Amerika Serikat untuk memperkirakan apakah bank sentral akan mempertahankan suku bunga atau mengambil langkah yang lebih ketat guna mengendalikan kenaikan harga.
Data Consumer Price Index (CPI) yang dijadwalkan terbit pada Rabu menjadi perhatian utama pasar. Apabila inflasi masih tinggi, peluang penurunan suku bunga dapat semakin terbatas, sementara kemungkinan kebijakan moneter ketat bertahan lebih lama bisa meningkat.
Situasi suku bunga tersebut memiliki pengaruh terhadap daya tarik emas dan perak sebagai aset investasi. Kedua logam tidak memberikan bunga secara langsung, sehingga ketika instrumen berbasis imbal hasil menawarkan keuntungan yang lebih menarik, sebagian investor dapat mengalihkan dananya ke aset lain.
Di luar faktor moneter, kenaikan harga minyak juga menjadi perhatian pelaku pasar. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran mengenai pasokan energi, yang berpotensi mendorong inflasi dan memengaruhi arah kebijakan ekonomi global.
Meski mengalami tekanan, pergerakan harga logam mulia tidak sepenuhnya ditentukan oleh dolar dan suku bunga. Permintaan fisik, aktivitas pembelian investor, perkembangan geopolitik, serta perubahan ekspektasi ekonomi dapat memicu pemulihan harga maupun memperpanjang koreksi.
Dalam jangka pendek, investor perlu mencermati rangkaian data ekonomi AS, termasuk CPI, Producer Price Index (PPI), dan penjualan ritel. Data-data tersebut dapat memberikan gambaran mengenai kondisi inflasi dan konsumsi masyarakat yang menjadi pertimbangan penting bagi The Fed.
Dengan volatilitas yang masih tinggi, keputusan membeli atau menjual emas dan perak perlu disesuaikan dengan tujuan investasi, jangka waktu, serta toleransi risiko masing-masing. Penurunan harga tidak otomatis menandakan peluang keuntungan, sehingga investor perlu mempertimbangkan berbagai skenario sebelum mengambil keputusan.(*)

