Buku Biografi Sang Maestro Kaligrafi Islam “Urang Awak” Diluncurkan Pada Pameran Restropeksi Juli Mendatang

by -
Sang Maestrro dan guru besar ITB Bandung AD Pirous dan Syaiful Adnan

SEMANGATNEWS.COM, BANDUNG – Pelukis sang maestro kaligrafi Arab urang awak kelahiran Saningbakar, Solok, Sumatera Barat, 5 Juli 1957 yang kini menetap dan berkarya di Yogyakarta kini tengah mempersiapkan buku biografi dirinya yang ditulis Dedi Junaidi (dosen Institut Seni Indonesia/ISI Yogyakarta) yang Insya Allah diluncurkan pada Pameran Restropeksi Kaligrafi Syaiful Adnan di Taman Ismail Marzuki Jakarta, Juli 2023 mendatang.

Berkiprah sejak tahun 1976 persisnya saat ia menamatkan pendidikan di SSRI (SMSR/SMKN 4 Padang) kemudian melanjutkan pendidikan ke ASRI (sekarang ISI) Yogyakarta dan kini memiliki rumah kaligrafi “Syaiful Adnan” di Jalan Ngasem No, 40 Yogyakarta itu, sejak lama di kenal melalui karya-karya lukisan kaligrasi Islam. Dan, ia sedikit dari maestro pelukis kaligrafi Islam Indonesia selain pendahulunya seperti A.D. Pirous, Fadjar Sidik, Amang Rahman, Amri Yahya.

Muharyadi dan Syaiful Adnan

Syaiful Adnan saat dihubungi semangatnews.com di Serambi Pirous, Bandung, senin sore (26/02/23) menyebutkan, ia berada di Serambi Pirous guna mewawancarai sang maestro AD Pirous berkaitan dengan penulisan buku biografi perjalanannya selama ini yang diketahui pelukis dan guru besar ITB Bandung tersebut.

Bahkan kepada penulis buku, AD Pirous berbicara panjang lebar sejak kenal dengan karya kaligrafi Syaiful Adnan tahun 1979 hingga sekarang yang mempunyai kaligrafi karakter kuat dan sangat khas tidak ada duanya di Indonesia, walau ada yang mengikuti tapi tidak bisa menyamai kaligrafi Syaifuli ujar AD Pirous seperti ditirukan Syaiful.

Menurut Syaiful, buku biografi Syaful Adnan selain berisikan kekaryaan lebih 4 dekade menekuni seni lukis kaligrafi Islam di Indonesia yang juga telah puluhan kali berpameran di Indonesia dan ke sejumlah negara Asia dan Timur Tengah tersebut bertindak sebagai narasumber buku biografi Syaiful Adnan seperti AD Pirous (sang maestro kaligrafi Islam yang juga guru besar ITB Bandung), KH, Dr, Sirajuddin AR (pelukis dan Pakar Kaligrafi Islam) dan Muharyadi (kurator, pengamat seni rupa dan jurnalis dari Minang).

Mengetengahkan ayat-ayat suci Al-Qur’an sebagai tema sentral

Lukisan Syaiful Adnan,Salam Perubahan,150×150 cm, akrilik, 2021

Dalam catatan kita selama ini kekuatan lain pada khat kaligrafi Islam menjadi menonjol melalui eksplorasi karya-karya Syaiful Adnan. Ia mengetengahkan ayat-ayat suci Al-Qur’an sebagai tema sentral sebagai bentuk refresentasi atas tauhidiah — keyakinan tentang keesaan Allah — dan zikir sebagai konsekwensi tauhid. Lukisan-lukisannya juga merupakan ekspresi zikir visual, membaca dan mewujudkan terus menerus tentang ayat-ayat Allah. Keesaan Allah SWT dapat dipahami melalui rangkaian ayat-ayat suci Al-Qur’an yang memuat tentang segala kemahabesaran, kemahaagungan, kemahaindahan dan lain sebagainya.

Menurut Syaiful, setidaknya terdapat tiga faktor yang melatarbelakanginya melukis kaligrafi Islam hingga saat ini. Pertama, aspek bentuk lukisan kaligrafi Islam yang memiliki konotasi tersurat (psiko plastis) karena kaligrafi Islam memiliki potensi artistik yang tinggi dan memiliki banyak kemungkinan-kemungkinan dengan fleksibilitas variasi dan nuansa yang didalamnya berisi karakter lembut, luwes, tenang bahkan terkadang berkesan lugas, tajam bahkan menyentak yang berada dalam kesatuan dan keharmonisan yang utuh seperti karakter Islam.

Lukisan Syaiful Adnan, An Nur 35, 100 x 159 cm, Akrilik, 2022

Kedua, aspek tersirat (ideo plastis) baik langsung maupun tidak berhubungan dengan kaligrafi Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW seperti tersirat dalam wahyu pertama Surat Al-Alaq (3-5) yang artinya ; ”Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah” dengan mengajar apa yang tidak diketahui manusia melalui perantara kalam seperti tercermin pada Surat Al-Qalam 1, ”Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis”.

Ketiga melukis kaligrafi Islam merupakan penyampaian ”dakwah” Islamiyah yang menyentuh kalbu manusia sesuai fitrahnya supaya menjalani kehidupan menurut petunjuk ilahi. Rasulullah SAW juga bersabda ; ”Sesungguhnya Allah Maha Indah, Allah suka keindahan, Allah maha baik”. Ketiganya bukan semata-mata menghadirkan lafal Al-Qur’an yang mudah dibaca atau sekedar tulisan kaligrafi Arab sebatas tulisan belaka, melainkan penyatuan unsur-unsur psiko palstis dan ideo plastis dijiwai firman-firman illahi, ujar Syaiful yang karya-karya telah dikoleksi sejumlah kepala negara Asia dan Timur Tengah (Muharyadi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.