Jakarta, Semangatnews.com – Insiden tendangan kungfu yang terjadi dalam laga Liga 4 Jawa Timur terus menuai perhatian luas. Aksi keras yang dilakukan pemain PS Putra Jaya Pasuruan, Muhammad Hilmi Gimnastiar, terhadap pemain Perseta 1970 Tulungagung, Firman Nugraha Ardhiansyah, memicu kecaman dan reaksi tegas dari berbagai pihak.
Peristiwa tersebut terjadi saat pertandingan babak 32 besar yang berlangsung panas. Dalam sebuah momen perebutan bola, Hilmi melayangkan tendangan tinggi yang mengenai tubuh Firman dan langsung membuat pemain Perseta tersebut terjatuh.
Video insiden itu dengan cepat menyebar di media sosial dan memantik kemarahan publik. Banyak pihak menilai tindakan tersebut jauh melampaui batas kewajaran dalam olahraga sepak bola dan mengancam keselamatan pemain di lapangan.
Akibat tendangan keras itu, Firman mengalami cedera serius berupa retak tulang di bagian dada. Ia harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit dan belum dapat dipastikan kapan bisa kembali merumput.
Komite Disiplin Asprov PSSI Jawa Timur merespons cepat insiden tersebut. Hilmi dijatuhi sanksi berat berupa larangan beraktivitas di dunia sepak bola seumur hidup sebagai bentuk ketegasan terhadap tindakan kekerasan di lapangan.
Manajemen Perseta 1970 menyatakan menerima keputusan sanksi tersebut. Namun mereka menegaskan bahwa hukuman disiplin dari federasi belum cukup untuk memberikan keadilan bagi korban.
PSSI Tulungagung secara terbuka mendukung langkah Perseta 1970 jika kasus ini dibawa ke ranah hukum. Menurut mereka, tindakan kekerasan yang menimbulkan cedera serius tidak bisa hanya diselesaikan melalui mekanisme olahraga semata.
Pengurus PSSI Tulungagung menilai proses hukum diperlukan agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari. Penegakan hukum dianggap penting untuk memberikan efek jera dan melindungi pemain dari tindakan brutal di lapangan.
Sikap tegas juga datang dari komunitas sepak bola daerah yang mengecam keras aksi tersebut. Mereka menilai insiden ini mencederai semangat fair play dan merusak citra kompetisi sepak bola nasional, khususnya di level akar rumput.
Di sisi lain, klub PS Putra Jaya Pasuruan telah mengambil langkah internal dengan menghentikan kerja sama dengan Hilmi. Klub menyatakan tidak mentolerir tindakan yang bertentangan dengan nilai sportivitas.
Kondisi Firman sendiri terus dipantau oleh tim medis dan manajemen Perseta 1970. Meski telah menunjukkan perkembangan positif, ia masih membutuhkan waktu pemulihan sebelum bisa kembali berlatih.
Kasus ini menjadi peringatan keras bagi seluruh insan sepak bola Indonesia. Keselamatan pemain dan nilai sportivitas harus menjadi prioritas utama agar kompetisi berjalan sehat dan menjunjung tinggi semangat olahraga.(*)
