DHARMASRAYA, SEMANGATNEWS.COM – Bupati Sutan Riska Tuanku Kerajaan bicara tentang pentingnya air di atas bumi ini bersama Presiden World Water Council dalam acara audiensi persiapan 2ND Stakeholder Consultation Meeting World Water Forum ke-10, yang dilaksanakan baru baru ini di Pulau Bali, Selasa (10/10/2023)
Dalam sambutannya Sutan Riska mengutip pendapat ahli yang mengatakan bahwa air yang ada di bumi, berusia jauh lebih tua dari matahari. Ia berasal dari luar tata surya kita dan melewati perjalanan jutaan tahun cahaya untuk mencapai bumi, untuk memberi kita kehidupan.
Lanjutnya, ketika manusia ingin menjadikan Mars sebagai planet baru untuk menggantikan bumi yang terancam punah karena krisis iklim.
“Satu masalah yang ditemukan di planet Mars yang bisa dimodifikasi untuk sumber oksigen makhluk hidup, tapi ia gagal mendapatkan satu substansi penting yang menjadi kunci segala denyut nadi yaitu air,” urai Ketua APKASI itu.
Maka tak heran sambung beliau, orang terdahulu begitu memuliakan air, mata air disakralkan, sungai dijaga, laut disucikan dengan berbagai ritual dan penjagaan. Semesta dan manusia hidup dalam keselarasan yang hakiki. Saling jaga, saling beri, saling lindungi.
Sutan Riska juga menyinggung beberapa permasalahan yang dihadapi dewasa ini terkait air, antara lain tarif yang masih di bawah harga dasar (full cost recovery).
“Pemkab menyadari tidak mudah menaikkan tarif air minum diatar full cost recover (FCR). Ada banyak pertimbangan yang perlu dilakukan, karena harus mempertimbngkan harga bahan pokok dan daya beli masyarakat,” ulasnya.
Kedua, Pendanaan, Pemkab dihadapkan pada keterbatasan dana untuk memberikan dukungan terhadap pengelolaan air bersih.
Sedangkan untuk pengalokasiannya, dibatasi oleh adanya kebijakan Mandatory Spending atau pengeluaran wajib yang diatur dalam undang-undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah.
Terakhir, masih banyak hutang PDAM yang belum dapat diselesaikan menjadi persoalan lama yang perlu dibenahi.
“Kini, ketika segalanya telah masuk dalam fase apokaliptik, kita tersadar, bahwa menyelamatkan air artinya menyelamatkan kemanusiaan. Menghancurkannya adalah menghancurkan kemanusiaan. Maka dengan ini kami, mewakili jutaan suara anak bangsa yang tak mampu bersuara, menyeru dengan sungguh-sungguh, dengan hati yang setengah luka dan setengah harap,” terangnya lagi.
Bupati Sutan Riska meninta agar negara berada di depan, memimpin segenap tumpah darah Indonesia untuk memuliakan air dengan menjaga sumber air yang tersebar di seluruh wilayah khatulistiwa.
“Mari kita jaga dan kembalikan kealamian Sungai, danau, rawa basah, dan laut beserta seluruh keanekaragaman hayati yang dihidupi dan menghidupinya. Sungai-sungai yang telah busuk dan merana akibat limbah, dikembalikan dengan teknologi pemurnian dan merelokasi industri serta saluran-saluran pembuangan yang terhubung langsung dengan Sungai,” harapnya
Sementara itu, pada tataran implementasi, Pemerintah Kabupaten akan selalu berupaya meningkatkan koordinasi dan kolaborasi berbagai pihak untuk pengelolaan sumber daya air. Melakukan inovasi pembiayaan dan perluasan cakupan kerja sama pembiayaan melalui partisipasi sektor swasta dalam penyediaan infrastruktur pengelolaan air bersih melalui Skema Perjanjian Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (PKBU). Perlu terus didorong peningkatan kapasitas Program Penyediaan Air Minum Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS), tutup Ketua Apkasi.
Dari pantauan semangatnews.com, Turut hadir dalam acara tersebut, Presiden World Water Council (WWC) Loïc Fauchon, Menteri PUPR diwakili Sekjen Kementerian PUPR M Zainal Fattah, dan sejumlah staf ahli Kementerian PUPR, Ketua Umum APPSI, Al Haris, yang juga menjabat sebagai Gubernur Jambi serta Bima Arya Sugiarto, pengurus Apeksi yang juga Walikota Bogor.(rsy)
