Jakarta, Semangatnews.com – Buronan kelas kakap kasus narkoba, Dewi Astutik, akhirnya berhasil ditangkap setelah berbulan-bulan lolos dari kejaran aparat. Perempuan asal Ponorogo itu diamankan tim gabungan BNN, Interpol, dan otoritas keamanan Kamboja di sebuah hotel mewah di kawasan Sihanoukville. Penangkapan ini sekaligus menandai berakhirnya pelarian seorang tersangka utama dalam jaringan penyelundupan sabu senilai Rp 5 triliun.
Dewi disebut sebagai salah satu pengendali utama penyelundupan dua ton sabu yang sebelumnya berhasil diungkap BNN. Selama masa pelariannya, ia diketahui berpindah-pindah negara dan berganti identitas agar tidak terdeteksi. Upaya itu sempat membuat aparat kesulitan melacak pergerakannya.
Penangkapan terjadi pada Senin siang waktu setempat ketika tim gabungan memantau gerak-gerik Dewi yang sudah terdeteksi berada di hotel tersebut. Saat hendak keluar menuju area lobi, petugas langsung mengepung kendaraan yang ditumpanginya dan menangkapnya tanpa perlawanan.
Usai diamankan, Dewi tampak mengenakan kaus putih dan celana panjang biru gelap. Penampilannya cukup berbeda dari foto-foto yang selama ini beredar, diduga karena ia berupaya mengubah gaya agar tidak mudah dikenali. Selain itu, Dewi juga diketahui memiliki beberapa nama alias yang dipakai selama pelarian.
Setelah proses identifikasi dan pemeriksaan awal di Kamboja, Dewi langsung dipulangkan ke Indonesia melalui Bandara Soekarno-Hatta. Ia dibawa menggunakan pengawalan ketat karena dianggap sebagai sosok penting dalam jaringan narkoba internasional yang masih terus dikembangkan penyidikannya.
Kepala BNN menegaskan bahwa penangkapan Dewi merupakan hasil kerja sama lintas negara dan menunjukkan komitmen Indonesia dalam memberantas kejahatan narkotika. Ia menyebut bahwa barang bukti yang berkaitan dengan Dewi memiliki potensi membahayakan jutaan masyarakat jika berhasil beredar.
Selama buron, Dewi diketahui pernah terdeteksi di beberapa negara Asia sebelum akhirnya menetap sementara di Kamboja. Pihak berwenang menduga ia mendapat dukungan dari jaringan kriminal internasional sehingga mampu bergerak dengan leluasa.
Selain itu, sejumlah aset yang diduga terkait dengan Dewi kini tengah ditelusuri. Penyidik ingin memastikan seluruh aliran dana serta pihak-pihak yang ikut terlibat dalam jaringan tersebut dapat diungkap. Tidak menutup kemungkinan akan ada tersangka baru setelah penyidikan berjalan.
Warga di kampung halaman Dewi di Ponorogo mengaku kaget atas penangkapannya. Meski sudah lama tidak pulang, Dewi sebelumnya dikenal sebagai sosok misterius yang jarang berinteraksi dengan lingkungan. Sebagian warga bahkan tidak tahu aktivitas asli yang ia jalankan.
Kasus ini menambah panjang daftar pengungkapan kejahatan narkoba berskala internasional yang melibatkan warga Indonesia sebagai aktor penting. BNN menilai bahwa jaringan yang menyeret Dewi ini bukan hanya beroperasi di satu negara, melainkan memiliki rute distribusi lintas benua.
Kini, Dewi akan menghadapi proses hukum di Indonesia dan terancam hukuman sangat berat mengingat jumlah serta dampak barang bukti yang diselundupkan. BNN menegaskan tidak akan memberi ruang bagi pelaku kejahatan narkoba, terlebih yang berperan sebagai pengendali.
Dengan tertangkapnya Dewi Astutik, aparat berharap dapat mengungkap lebih jauh struktur jaringan penyelundupan sabu bernilai fantastis tersebut. Penangkapan ini menjadi peringatan keras bagi pelaku kejahatan narkotika bahwa pelarian panjang sekalipun pada akhirnya akan berujung pada jerat hukum yang tak terhindarkan.(*)
