SEMANGATNEWS.COM — Sebagaimana arahan Pemko Payakumbuh terkait Tanggap Darurat Sampah, masyarakat diminta untuk menyortir sampah menjadi sampah organik, non-organik, dan residu. Hal ini untuk memudahkan pengelolaan sampah, khususnya di Kota Payakumbuh.
Sekretaris Umum MUI Kota Payakumbuh, Buya H Hannan Putra Lc MA menyarankan bahwa edukasi pengelolaan sampah tersebut perlu disosialisasikan juga ke sekolah-sekolah. Masalahnya, masyarakat sudah terbiasa dengan habit (pola hidup) bisa membuang sampah seenaknya. Sehingga butuh edukasi sadar sampah semenjak bangku sekolah.
“Di luar negeri, edukasi untuk membuang sampah itu sudah dimulai dari TK sampai bangku SMA dan memang hadir dalam kurikulum pendidikan mereka. Di Jepang, misalnya. Kesadaran masyarakatnya untuk tidak membuang sampah sembarangan itu sangat tinggi karena sudah 12 tahun dididik sadar sampah,” papar beliau.
“Bahkan kalaupun kita datang ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sampah di Jepang, nyaris tidak ada bau busuk. Kenapa? Karena masyarakatnya dididik dari kecil untuk mengosongkan sampah dari sisa-sisa makanan sebelum dibuang. Karena bau busuk itu berasal dari sisa makanan yang membusuk. Padahal ajaran tidak mubazzir itu ada pada kita. Kok malah mereka yang mengamalkan?” lanjutnya.
Di luar negeri, lanjut beliau, nyaris tidak ada tempat pembuangan sampah umum di pinggir jalan. Seluruh sampah diberikan ke petugas kebersihan. “Jadi kalau petugas kebersihan menolak mengambil sampah karena alasan sampah tercampur organik dan non-organik, itu bisa saja. Karena ke mana lagi orang akan membuang sampah kalau tidak melalui petugas kebersihan. Bedanya di tempat kita, orang bisa dibuang sampah bebas di pinggir jalan. Jadi tidak mesti melalui petugas kebersihan,” papar alumnus Universitas Al-Azhar Kairo Mesir tersebut.
Melalui MUI Kota Payakumbuh, beliau menghimbau agar masyarakat membantu pemerintah untuk penanganan masalah sampah. Di lingkungan beliau sendiri, beliau sudah memulai edukasi di lingkungan pesantren yang beliau pimpin tentang adab membuang sampah. “Kami berikan edukasi soal sampah semenjak dari level PAUD. Kebetulan kami mempunyai sekolah setingkat PAUD yaitu Sekolah Qur’an Semut-Semut. Demikian pula di lingkungan pesantren ICBS,” jelas beliau.
“Kita ingin ajarkan bahwa Hidup bersih adalah karakter seorang mukmin. Pertolongan Allah bisa jadi tertunda hanya karena tidak memperhatikan hal kecil pada kebersihan. Sebagaimana Perang Bani ‘Abbasiyah yang belum kunjung diberi kemenangan, sampai pasukan kaum muslimin memperhatikan kebersihan mulut dengan bersiwak,” pungkas beliau.
