Catatan Akhir Tahun 2019, Karya-Karya Seni Rupa Terbaik Sumbar Senantiasa Mengalir Kepermukaan

oleh -

Catatan Akhir Tahun 2019, Karya-Karya Seni Rupa Terbaik Sumbar Senantiasa Mengalir Kepermukaan

Semangatnews.com, Padang – Semangat berkarya seni rupa, berpameran dan berkarya lagi di kalangan seniman seni rupa di Sumatera Barat saat ini memperlihatkan frekwensi yang cukup tinggi ditandai dengan banyaknya lahir karya-karya terbaik sepanjang ruang dan waktu.

Karya-karya terbaik itu menjadi aset berharga, baik bagi senimannya maupun publik seni di daerah ini. Betapa tidak, bagaimana pun karya-karya terbaik tersebut bukan hadir begitu saja kepermukaan, tanpa adanya perjuangan dan pergulatan panjang di ranah kreativitas para seniman dalam menggali, menyiasati dan mengungkapkan nilai-nilai yang dipaparkan kepermukaan baik dari aspek tema/konsep, bentuk dan makna karya yang diusung kepermukaan.

Hal itu dikemukakan pengamat dan kurator seni rupa Muharyadi dan Yasrul Sami B yang dihubungi Semangatnews.com di tempat terpisah menjawab pertanyaan seputar karya-karya terbaik sepanjang tahun 2019 lalu.

Menurut Muharyadi, dalam berkarya yang di mulai dari tahapan ide, gagasan sampai wujud karya. Semuanya tidak terlepas dari hasil pengamatan serta interaksi dengan lingkungan atau alam sekitarnya yang berangkat dari pengalaman masing-masing individual.

Pengamatan terhadap realitas dianggap penting karena berkaitan dengan ide, keinginan dan lainnya. Realitas yang ada dihadapan baik dalam masalah sosial, kemiskinan, ekonomi, politik, budaya atau masalah keseharian menjadi sesuatu yang menarik diwacanakan. Kepekaan terhadap realitas menjadi teramat penting.

Konsep berkarya seni rupa identik dengan melakukan pengamatan terhadap realitas, baik datang dari dalam maupun luar diri sendiri. Selama ini sering mengemuka pertanyaan ; “kegiatan apakah yang paling kuat dan bisa dituangkan dalam karya?”. Seseorang biasanya didahului menuangan konsep karya dengan menggores-gores sejumlah sketsa di atas kertas atau bidang dua dimensi.

Dari banyak sketsa terdapat beberapa pilihan hingga mengerucut menjadi satu pilihan berdasarkan hasil analisis aspek visual dan konseptual. Usai tahapan ini, ekspresi diri seharusnya sudah cukup untuk dituangkan ke dalam karya.

Tetapi seiring perkembangan dan perubahan zaman, seni juga mengalami berbagai perubahan dan dinamika.

Ketika berbicara mengenai seni memang tak akan ada batasan tersendiri dan tak akan habis-habisnya untuk dibahas atau didiskusikan, karena seni merupakan wujud ekspresi dalam menumpahkan imajinasi yang mungkin saja berisikan paparan cerita, tentang cinta, tentang keindahan, curahan hati atau persoalan yang melingkari pencipta karya seni, ujar Muharyadi.

Tetapi karya yang mampu merayakan mata penikmat bahkan mampu menghipnotis mata banyak orang, tentu tidak terlepas dari persoalan adanya keunikan tema, bentuk dan makna yang dimunculkan.

Mengambil contoh melukis, mematung atau menciptakan karya seni lainnya bukan hanya sebatas menuangkan ide/imajinasi kepermukaan menjadi karya, tanpa menyentuh substansi konsep dan makna karya secara utuh. Konsep dapat ditelisik dari persoalan kakikat seni rupa, serta aspek-aspek lain di dalamnya. Makna simbol merupakan representasi pencipta, misalnya apa yang ditawarkan kepada penikmat atau publik hingga pemahaman karya benar-benar komunikatif antara karya seni dan penikmat, jelas Muharyadi lagi.

Sementara Yasrul Sami B, lebih melihat perkembangan kekaryaan yang digeluti teman-teman seniman seni rupa di Sumatera Barat tidak berjalan seimbang dengan semangat berkumpul dan ber organisasi melalui komunitas atau perkumpulan.

Mengambil contoh sebagaimana yang terjadi misalnya pada seniman seni rupa “urang awak” di Yogyakarta, kualitas karya-karya mereka tidak diragukan lagi, kemudian semangat dan kemauan mengelola organisasi pun tak kalah hebatnya. Lihat komunitas “Sakato Art Community” dan Komunitas Seni Rupa “Jendela” keduanya mampu menjadi “icon” komunitas seni rupa di Indonesia, yang dikenal bukan hanya di Tanah Air tetapi hingga ke banyak negara. Komunitas ini pun mampu meninggalkan komintas “Sanggar Dewata” Bali yang lebih awal tumbuh dan berkembang di tanah air.

Karya-karya seniman seni rupa terutama yang berada di Sumatera Barat dengan segala kelebihan dan kekurangannya sesuai sifatnya yang lebih manusiawi dan tidak diragukan lagi. Karena rata-rata seniman seni rupa yang berpameran, berkarya dan berpameran lagi di daerah ini setidaknya telah memiliki pengalaman empiris yang luar biasa terhadap apa yang direspon kepermukaan ditandai banyak iven atau pameran yang diikuti masing-masing perupa.

Yang belum berjalan secara kondusif itu belum adanya organisasi atau komunitas seni rupa di daerah ini yang benar-benar solid sebagai bagian tak terpisahkan dari perjalanan dan perkembangan seni rupa itu sendiri.

Tetapi walau pun demikian perbaikan demi perbaikan tetap dilaksanakan, misalnya pada komunitas Rumah Ada Seni (RAS) dengan berbagai agenda dan akticitas pamerannya yang mampu mencuri perhatian publik tanah air, komunitas Tambo Art Centre yang terus berbenah diri, yang lain masih tetap jalan di tempat dalam hal organisasi komunitas seni rupa di daerah sendiri, ujar Yasrul Sami dosen UNP, seniman dan kurator itu menjelaskan. (FR)