Catatan Ilham Bintang :Narsisme Dibalik Baliho dan Billboard

oleh -

Catatan Ilham Bintang :Narsisme Dibalik Baliho dan Billboard

ADA dua golongan yang tidak boleh dipilih jadi pemimpin. Golongan pertama, orang “yang tidak mau”. Golongan kedua : “orang yang terlalu mau”. Kepemimpinan berdasar kearifan lokal masyarakat tradisional Bugis Makassar itu m mewanti – wanti supaya berhati- hati mengenai dua golongan calon pemimpin tersebut.

// Punya agenda sendiri //

Sederhana alasannya. Golongan yang tidak mau akan sulit dimintai pertanggungjawaban amanah kepemimpinannya.
Kalau gagal atau hadapi masalah, mudah dia bela diri dengan mengatakan, “siapa yang suruh memilih saya. Sejak awal saya kan memang tidak mau”.

Baca Juga:  Ramalan Zodiak Besok Kamis 9 September 2021: Tersedia untuk Bintang Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Scorpio, Sagitarius, Capricorn, Aquarius dan Pisces

Yang terlalu mau ?
Lebih sulit lagi. Dampaknya bisa fatal. Karena golongan ini niscaya hanya akan menjalankan agendanya sendiri dan agenda kelompoknya. Tidak konek dengan aspirasi seluruh masyarakat yang memilihnya.

// Pemilihan langsung//

Dalam sistem politik kita pasca reformasi, tampaknya kearifan lokal model itu sudah usang alias jadul, sudah dibuang ke tempat sampah. Digantikan oleh sistem demokrasi modern, “impor ” dari sistem demokrasi negara – negara maju di Barat.
Pemilihan pemimpin langsung dari tingkat kepala desa sampai kepala negara, salah satu produknya.

Baca Juga:  PERPUSTAKAAN SUMBAR KINI DILENGKAPI IRWAN PRAYITNO CORNER

Sistem ini juga sebenarnya meninggalkan sila keempat Pancasila, falsafah hidup kita, warisan Bung Karno. Sila keempat jelas mengamanatkan azas ” kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan permusyawaratan/ perwakilan”. Azas ini hanya berlaku setengah abad dalam priode kepemimpinan Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto.

No More Posts Available.

No more pages to load.