China Buka Keran Ekspor Gallium dan Germanium ke AS — Sinyal Meredanya Ketegangan Perdagangan

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Pemerintah China mengumumkan penghentian sementara pelarangan ekspor bahan logam kritis seperti Gallium dan Germanium ke Amerika Serikat, bahan yang sebelumnya diklasifikasikan sebagai “dual‑use” alias dapat digunakan untuk keperluan sipil maupun militer. Keputusan tersebut mencerminkan langkah penting dalam hubungan perdagangan kedua negara.

Langkah ini diumumkan oleh Kementerian Perdagangan China yang menyebut bahwa pelarangan akan ditangguhkan mulai 9 November 2025 hingga 27 November 2026. Masa tangguh ini memberi sinyal bahwa China bersedia memberi kelonggaran dalam kerangka kesepakatan bilateral dengan AS.

Pelarangan asli terhadap ekspor gallium, germanium, dan antimon, yang diberlakukan sejak Desember 2024, merupakan respon China terhadap pembatasan ekspor teknologi chip dari AS. Akses bahan baku ini adalah bagian dari persaingan teknologi dan keamanan yang melibatkan rantai pasok global.

Gallium dan germanium memiliki aplikasi yang sangat strategis — mulai dari komponen semikonduktor, kabel serat optik, hingga sistem radar dan teknologi militer. China adalah produsen utama dunia untuk beberapa material tersebut.

Dengan dibukanya kembali ekspor tersebut, industri di AS yang mengandalkan pasokan gallium dan germanium menyambut baik. Hal ini juga dianggap dapat menstabilkan harga dan pasokan bahan baku kritis yang sempat terganggu.

Meski demikian, beberapa analis memperingatkan bahwa pembukaan ekspor ini sifatnya sementara dan terikat oleh kondisi geopolitik dan kebijakan dalam negeri China. Triwulan ke depan akan menjadi uji bagi kelangsungan pasokan dan keandalan perdagangan.

Pihak AS sendiri menyambut langkah ini sebagai bagian dari kesepakatan yang diperoleh antara Presiden China dan Presiden AS baru‑baru ini, di mana salah satu poin adalah pengurangan pembatasan ekspor bahan kritis.

Namun, catatan penting ditekankan bahwa pelarangan untuk penggunaan militer langsung atau ekspor ke entitas militer AS tetap berlaku. Artinya, pengawasan tetap ketat meskipun ekspor sipil atau komersial dibuka kembali.

Efek ke Indonesia dan negara pengimpor lain pun tidak kecil. Karena jika China kembali sebagai pemasok utama, negara seperti Indonesia akan menghadapi persaingan dalam mendapatkan pasokan bahan baku; namun juga peluang untuk ekspor komponen yang menggunakan bahan ini. Tidak hanya itu, kebijakan ini bisa mempengaruhi strategi diversifikasi rantai pasok global.

Secara keseluruhan, keputusan China ini menjadi titik penting dalam dinamika perdagangan bahan baku strategis global. Meski penuh ketidakpastian, langkah ini diharapkan membawa sedikit kelegaan bagi industri yang bergantung pada gallium dan germanium — sembari terus memantau arah kebijakan selanjutnya.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.