Dari Barasuara hingga Efek Rumah Kaca, Panggung Synchronize Jadi Suara untuk Korban Karhutla

by

Jakarta, Semangatnews.com – Sejumlah musisi Indonesia menjadikan penampilan mereka di Synchronize Fest 2026 sebagai kesempatan untuk menyampaikan pesan sosial. Di tengah kemeriahan festival, persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi salah satu isu yang disorot melalui ajakan solidaritas, kritik, dan pesan visual.

Festival yang berlangsung di Gambir Expo, Kemayoran, Jakarta, pada 16–18 Oktober 2026 tersebut menghadirkan musisi dari beragam genre. Namun, bagi sejumlah penampil, panggung bukan hanya tempat membawakan lagu, melainkan juga sarana untuk mengingatkan masyarakat terhadap persoalan yang sedang dihadapi berbagai daerah.

Efek Rumah Kaca termasuk grup yang menyampaikan pesan kepedulian sejak hari pertama festival. Vokalis Cholil Mahmud mengajak penonton mendoakan warga yang terdampak karhutla di Kalimantan. Ia juga menekankan pentingnya mengikuti perkembangan situasi agar persoalan tersebut tidak luput dari perhatian publik.

Dalam penampilan yang sama, Efek Rumah Kaca turut membawakan lagu “Di Udara” sebagai penghormatan kepada aktivis hak asasi manusia Munir Said Thalib. Grup tersebut kemudian melanjutkan pertunjukan dengan “Mosi Tidak Percaya”, yang dikenal membawa pesan kritik sosial.

Barasuara juga menghadirkan pesan kuat melalui penampilannya di District Stage. Iga Massardi mengenakan pakaian bertuliskan “dibakar”, sementara visual yang menampilkan api dan asap mempertegas pesan mengenai ancaman kebakaran hutan. Aksi tersebut menjadi salah satu bentuk ekspresi kepedulian terhadap bencana lingkungan.

Tak hanya melalui penampilan di panggung, pesan solidaritas juga terlihat dari poster bertuliskan “All Eyes on Kalimantan Sumatera Papua” di area penonton. Pesan itu mengingatkan bahwa dampak karhutla di berbagai wilayah Indonesia perlu terus diperhatikan, meskipun masyarakat berada jauh dari lokasi kebakaran.

The Changcuters menyampaikan pesan serupa melalui ajakan berdoa bersama. Tria Ramadhani mengharapkan kebakaran segera berakhir dan masyarakat di daerah terdampak dapat kembali menjalani kehidupan dengan lebih baik. Ia juga menyampaikan kritik keras terhadap tindakan pembakaran hutan secara sengaja.

Sementara itu, The Jansen menggunakan pesan visual “Dont lose focus on Karhutla” saat tampil di Forest Stage. Pengingat tersebut mengajak penonton untuk tetap mengikuti perkembangan karhutla di Kalimantan, termasuk dampaknya terhadap kehidupan sosial dan kesehatan masyarakat.

Polka Wars turut mengangkat kondisi hutan Indonesia dalam sela-sela pertunjukan mereka. Dega, pemain bas grup tersebut, mengingatkan bahwa keadaan hutan perlu menjadi perhatian bersama. Pesan ini memperluas pembicaraan mengenai karhutla dari sekadar bencana daerah menjadi persoalan lingkungan yang membutuhkan kepedulian publik.

Melly Goeslaw juga mengajak pengunjung festival mendoakan wilayah yang tengah dilanda kebakaran, terutama Kalimantan. Berbagai seruan dari para musisi tersebut memperlihatkan bahwa pesan kemanusiaan dapat disampaikan melalui banyak pendekatan, baik lewat ucapan, simbol, maupun karya seni.

Karhutla sendiri membawa konsekuensi yang melampaui kerusakan vegetasi dan kawasan hutan. Asap yang dihasilkan dapat mengganggu aktivitas warga, memengaruhi kualitas udara, serta meningkatkan risiko gangguan pernapasan. Karena itu, perhatian terhadap masyarakat terdampak dan upaya penanganan kebakaran tetap diperlukan.

Rangkaian pesan yang muncul di Synchronize Fest 2026 memperlihatkan peran musisi dalam menjaga isu lingkungan tetap menjadi pembicaraan. Meski seruan dari panggung tidak dapat menggantikan tindakan penanganan di lapangan, perhatian publik yang terjaga diharapkan ikut mendorong kepedulian dan tanggung jawab bersama terhadap bencana karhutla.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.