Jakarta, Semangatnews.com – Gubernur Perry Warjiyo kembali menyingkap cerita tentang awal mula lahirnya Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang kini digunakan oleh puluhan juta masyarakat Indonesia dan mulai merambah ke luar negeri. Sistem pembayaran digital ini dipandang sebagai salah satu inovasi terbesar dalam sejarah sistem pembayaran nasional.
QRIS pertama kali lahir dari gagasan untuk menyederhanakan proses transaksi non-tunai di Indonesia tahun 2019. Pada masa itu, berbagai penyedia layanan masing-masing memiliki kode QR yang tidak saling terhubung, sehingga transaksi seringkali menjadi rumit dan kurang efisien. Untuk mengatasi hal ini, Bank Indonesia bersama dengan pemangku kepentingan merancang satu standar nasional yang dapat digunakan oleh semua pihak.
Gagasan ini kemudian diwujudkan secara resmi pada 17 Agustus 2019, bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia. Pada peluncurannya, QRIS dirumuskan untuk memenuhi prinsip UNGGUL — universal, sederhana, menguntungkan, gerak langsung — yang dirancang untuk memperluas inklusi keuangan sekaligus mempercepat digitalisasi ekonomi Indonesia.
Menurut Perry, ide besar di balik QRIS lahir bukan hanya sebagai teknologi semata, tetapi sebagai respons terhadap kebutuhan masyarakat akan akses keuangan yang lebih mudah dan inklusif. Ia menceritakan bahwa gagasan itu muncul sekitar 10 bulan sebelum pandemi COVID-19 melanda, saat Indonesia masih mencari cara memperkuat transaksi digital di seluruh penjuru negeri.
Sejak diwajibkan diterapkan pada semua penyedia layanan pembayaran pada awal 2020, QRIS berkembang pesat di seluruh Indonesia. Merchant lokal di kota dan desa mulai memanfaatkan QRIS untuk menerima pembayaran, termasuk pedagang kecil, UMKM, hingga layanan transportasi dan tempat wisata. Ini membantu memperluas akses masyarakat terhadap sistem keuangan formal tanpa perlu perangkat keras mahal.
Bank Indonesia mencatat bahwa hingga Februari 2026, penggunaan QRIS telah mencapai sekitar 60 juta orang, dengan kemampuan transaksi tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di sejumlah negara seperti Malaysia, Thailand, Singapura, dan Jepang. Rencana ekspansi QRIS bahkan mencakup negara seperti Tiongkok dan Korea Selatan dalam waktu dekat.
Keberhasilan QRIS ini bukan hanya soal jumlah pengguna yang tinggi, tetapi juga dampaknya terhadap inklusi keuangan. Dengan QRIS, pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) kini dapat mencatat transaksi secara digital, memperkuat profil kredit mereka, dan membuka peluang akses pembiayaan lebih luas di masa depan.
Gubernur Perry juga menekankan bahwa QRIS memainkan peran penting selama pandemi, di mana kebutuhan akan transaksi tanpa kontak fisik meningkat tajam. QRIS membantu menjaga arus ekonomi tetap berjalan sekaligus mendorong masyarakat mengadopsi transaksi digital sebagai bagian dari gaya hidup baru.
Selain itu, QRIS dipandang sebagai pondasi kuat dalam mendorong pertumbuhan ekonomi digital nasional. Dengan interoperabilitas lintas bank dan aplikasi pembayaran, sistem ini turut mengintegrasikan lebih banyak layanan keuangan modern yang semakin dibutuhkan masyarakat.
Tak hanya soal fungsi domestik, Bank Indonesia saat ini tengah berupaya memperluas penggunaan QRIS lintas negara sebagai bagian dari inisiatif memperkuat keterhubungan ekonomi digital global. Ekspansi ini diharapkan akan mendukung mobilitas masyarakat dan kemudahan pembayaran internasional bagi pelancong maupun pelaku usaha.
Melihat perkembangan pesat ini, Perry menyebut bahwa QRIS merupakan bukti nyata bagaimana inovasi lokal dapat tumbuh menjadi solusi teknologi yang berdampak luas, tidak hanya mengubah cara masyarakat bertransaksi, tetapi juga mendukung ekosistem ekonomi digital yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Dengan demikian, perjalanan QRIS dari ide sederhana hingga menjadi platform yang digunakan jutaan orang merupakan pencapaian besar dalam sejarah digitalisasi sistem pembayaran Indonesia yang terus berkembang.(*)
