Debut Sutradara Reza Rahadian Lewat Pangku: Sambutan Hangat dan Makna Mendalam

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Film Pangku karya Reza Rahadian mendapat sambutan hangat sejak pemutaran perdana dan ramai diperbincangkan oleh penonton maupun kritikus film. Reza menyatakan bahwa ia masih merasa seperti mimpi karena respons yang datang jauh melebihi ekspektasi awalnya.

Dalam kesempatan gala premier, Reza menjelaskan bahwa film ini merupakan bentuk penghormatan terhadap sosok ibu dan perempuan yang berjuang sendirian. Ia mengungkap bahwa film ini lahir dari pengalamannya sendiri dibesarkan oleh ibu tunggal, yang kemudian memberi banyak inspirasi.

Sebagai sutradara dan co‑penulis skenario bersama Felix K. Nesi, Reza menegaskan bahwa Pangku bukan sekadar kisah melodrama biasa, melainkan kisah humanis yang menyentuh akar sosial budaya di wilayah Pantura, utamanya menyuarakan suara perempuan yang sering tersembunyi.

Reza mengungkap bahwa adegan‑adegan dalam film yang menangkap perjuangan seorang ibu tunggal — mulai dari kesendirian hingga upaya mencari kehormatan dalam kehidupan sehari‑hari — adalah refleksi dari apa yang ia saksikan dan rasakan secara pribadi.

Di antara cuplikan yang paling banyak disorot adalah latar warung kopi “pangku” di Jalur Pantura, sebuah tradisi lokal yang menjadi inspirasi utama film ini. Fenomena tersebut kemudian diramu menjadi narasi besar tentang pilihan hidup, kompromi sosial, dan kekuatan perempuan.

Film ini menghadirkan aktor dan aktris ternama seperti Claresta Taufan, Fedi Nuril, Christine Hakim, dan Devano Danendra dalam satu proyek. Reza menyebut bahwa ia merasa beruntung bisa bekerja dengan tim yang sangat profesional dan berdedikasi tinggi agar visi film bisa terealisasi dengan baik.

Meskipun ini adalah pengalaman barunya sebagai sutradara, Reza menunjukkan sikap rendah hati dan fokus pada proses, bukan hanya hasil. Ia menyebut bahwa penghargaan atau apresiasi adalah bonus, yang terpenting adalah bahwa karya ini bisa beresonansi dengan banyak orang — baik di Indonesia maupun luar negeri.

Salah satu hasil nyata dari resonansi tersebut ialah reaksi penonton hingga luar negeri, di mana sejumlah penonton Korea dilaporkan menangis setelah menyaksikan film ini. Fenomena ini menjadi bukti bahwa cerita lokal bisa punya daya universal.

Reza juga menekankan bahwa film ini bukan hanya untuk hiburan, tetapi untuk membuka dialog sosial tentang isu yang jarang diekspos—tentang perempuan, tentang warung kopi pangku, dan kehidupan di pinggiran. Ia berharap bahwa penonton akan membawa refleksi setelah keluar dari bioskop.

Dengan segala persiapan dan penerimaan positif, Pangku diharapkan akan membuka lembar baru bagi perfilman Indonesia — bahwa karya yang kuat bisa datang dari akar budaya, ketulusan cerita, dan keberanian pembuat film untuk menyuarakan hal-hal yang belum banyak dibicarakan. Reza menyebut bahwa ini adalah langkah awal dari perjalanan panjangnya sebagai sutradara.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.