Jakarta, Semangatnews.com – Sebuah bunker peninggalan era Perang Dingin di Los Angeles, Amerika Serikat, kembali menarik perhatian setelah dibeli oleh Zak Bagans. Properti bawah tanah yang awalnya dirancang sebagai tempat perlindungan dari ancaman bencana ini kini direncanakan menjadi museum yang dapat dikunjungi masyarakat.
Bunker tersebut dibeli dengan harga sekitar US$ 4,5 juta atau setara Rp 80 miliar. Zak Bagans, yang dikenal sebagai pembawa acara Ghost Adventures, memilih tidak langsung menempati bangunan tersebut, melainkan berencana menjadikannya ruang pamer yang memperkenalkan keunikan properti bawah tanah kepada publik.
Bangunan ini memiliki sejarah panjang yang berhubungan dengan kekhawatiran terhadap ancaman perang nuklir. Menurut arsip Koleksi Khusus Universitas Nevada, Las Vegas, bunker tersebut dibangun pada 1978 untuk seorang filantropis sekaligus pendiri Dawson School.
Jay Swayze menjadi sosok di balik pembangunan bunker itu. Ia dikenal sebagai pengembang yang mendorong konsep rumah bawah tanah pada masa Perang Dingin, ketika ketegangan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet memunculkan kekhawatiran mengenai kemungkinan serangan nuklir.
Bersama saudaranya, Kenneth, Swayze sebelumnya mengembangkan hunian bawah tanah di Plainview, Texas, sebelum membentuk World Underground Homes Corporation. Mereka berupaya memperkenalkan konsep kehidupan bawah tanah bukan semata sebagai perlindungan darurat, melainkan juga sebagai bentuk hunian alternatif yang futuristik.
Salah satu ciri utama bunker di Los Angeles ini adalah posisinya yang berada sekitar 7,9 meter di bawah permukaan tanah. Sementara bangunan di atasnya tampak sederhana, area bawah tanah justru menyimpan kompleks fasilitas yang luas dan dirancang dengan perhatian terhadap kenyamanan.
Total luas bagian bawah tanah mencapai sekitar 1.358 meter persegi. Di dalamnya terdapat kolam renang, lapangan golf mini, teater, lantai dansa, bar, sauna, dan jacuzzi, sehingga suasananya lebih menyerupai resor atau tempat hiburan daripada ruang perlindungan konvensional.
Desain interiornya juga menghadirkan berbagai elemen dekoratif yang tidak biasa untuk sebuah bunker. Mural buatan tangan, pepohonan artifisial, serta langit-langit dengan pencahayaan yang dapat diubah memberikan ilusi suasana luar ruangan meskipun seluruh kompleks berada di bawah tanah.
Properti ini turut memiliki dua bagian hunian yang dilengkapi perabotan dan fasilitas untuk mendukung aktivitas sehari-hari. Sebagai pembanding, rumah di permukaan tanah memiliki lima kamar tidur dan enam kamar mandi, tetapi penampilannya tidak semewah kompleks yang tersembunyi di bawahnya.
Rencana menjadikan bunker sebagai museum memberikan peluang untuk memperkenalkan sisi lain sejarah arsitektur Amerika. Pengunjung nantinya berpotensi melihat bagaimana ketakutan terhadap ancaman nuklir pada masa lalu melahirkan bangunan yang menggabungkan fungsi perlindungan dengan gagasan kehidupan modern.
Meski demikian, mekanisme kunjungan dan jadwal pembukaan untuk umum belum dijelaskan secara terperinci dalam pemberitaan yang tersedia. Jika rencana tersebut terealisasi, bunker milik Zak Bagans dapat menjadi destinasi yang menawarkan pengalaman berbeda sekaligus memperlihatkan warisan arsitektur bawah tanah dari era Perang Dingin.(*)

