Djamari Chaniago:Lupakan Trauma, Orang Minang Harus Kembali Tampil
SEMANGATNEWS.COM — Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan RI, Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago, mengajak masyarakat Minangkabau di ranah maupun di rantau untuk kembali tampil dengan kepala tegak, percaya diri, dan berani mengambil peran terdepan dalam pembangunan bangsa maupun daerah.
Ajakan itu disampaikan Djamari saat menerima kunjungan Pemimpin Umum Harian Singgalang H. Basril Djabar di Kantor Kemenko Polkam, Jakarta, Rabu (15/4) siang. Dalam pertemuan tersebut, Basril didampingi tiga wartawan senior, yakni Khairul Jasmi, Awaluddin Awe, Syafruddin AL, serta pengusaha muda Minang, Melvi Contessa.
Dalam dialog yang berlangsung santai namun sarat makna itu, Djamari menyoroti pentingnya kebangkitan kembali jati diri orang Minang. Menurut mantan Pangkostrad ini, dalam beberapa dekade terakhir, ada kecenderungan sebagian masyarakat Minangkabau seolah menyembunyikan identitasnya akibat trauma sejarah dan kesalahpahaman masa lalu, terutama yang dikaitkan dengan pergolakan PRRI.
Akibatnya, kata dia, tidak sedikit orang Minang yang tumbuh dengan rasa gamang terhadap identitasnya sendiri. Bahkan, ada yang memilih menjauh dari simbol-simbol keminangan, termasuk dalam penamaan, pergaulan sosial, hingga keberanian tampil di ruang-ruang strategis nasional.
“Sekarang tidak ada lagi alasan untuk bersembunyi. Orang Minang harus kembali bangkit dengan kepala tegak, tetapi tetap menjaga persatuan, kesatuan, serta sopan santun yang sejak lama menjadi karakter masyarakat Sumatera Barat,” ujar Djamari.
Mantan Komisaris Utama PT Semen Padang itu menegaskan, identitas Minang tidak boleh dipandang sebagai beban sejarah, melainkan sebagai sumber kekuatan moral, intelektual, dan keberanian.
Menurutnya, orang Minang memiliki tradisi panjang dalam melahirkan tokoh bangsa, pemikir, ulama, pendidik, jurnalis, pedagang, hingga pemimpin nasional yang berpengaruh.
Karena itu, Djamari mengingatkan agar generasi Minang hari ini tidak terus-menerus menoleh ke belakang, seolah dikalahkan oleh bayang-bayang masa lalu. Baginya, sejarah cukup dijadikan pelajaran, bukan alasan untuk hidup dalam keraguan.
“Kita jangan terus melihat ke belakang seperti orang yang pernah kalah dalam kesalahpahaman sejarah. Sekarang saatnya kita memperlihatkan bahwa orang awak, dengan identitas Minang yang melekat, tetap bisa diandalkan. Saya sendiri sejak taruna tetap memakai suku Chaniago di belakang nama saya. Tidak ada yang saya sembunyikan,” tegasnya.
Nada bicara Djamari terdengar penuh semangat dan ketegasan seorang prajurit. Meski telah dua dekade pensiun dari dinas militer, jiwa pengabdiannya tetap menyala. Semangat seorang tentara, menurut dia, tidak pernah benar-benar pensiun ketika panggilan untuk bangsa dan daerah masih membutuhkan keberanian.
Ia pun memompa semangat generasi muda Minang agar tidak tampil setengah-setengah dalam berjuang. Menurutnya, orang Minang harus berani masuk ke gelanggang, bersaing secara terhormat, dan hadir bukan sekadar untuk ikut meramaikan, tetapi untuk memimpin dan menjadi pionir.
“Sudah saatnya orang Minang tampil gagah dan berani di panggung nasional, menjadi pemimpin dan menjadi pionir. Kita tidak boleh setengah-setengah dalam berjuang. Kalau sudah masuk gelanggang, tunjukkan kemampuan, tunjukkan keberanian, dan buktikan bahwa kita mampu berdiri sejajar, bahkan terdepan,” ujarnya.
Djamari yang pernah menjadi Pangdam III Siliwangi itu, juga mengungkapkan bahwa di jajaran Kabinet saat ini terdapat belasan tokoh Minang, termasuk banyak pula sumando awak, yang berkontribusi dalam pemerintahan. Hal itu, menurut dia, menjadi bukti bahwa masyarakat Minangkabau tetap memiliki kapasitas, jaringan, dan peluang besar untuk berkiprah pada level tertinggi.
Namun, ia mengingatkan, kebangkitan itu harus ditopang dengan kerja keras dan visi jangka panjang, terutama di bidang pendidikan. Menurut Djamari, Sumatera Barat tidak kekurangan sumber daya manusia hebat, tetapi membutuhkan keberanian kolektif, konsistensi, dan orientasi besar untuk kembali menjadikan ranah Minang sebagai pusat kemajuan intelektual.
“Dulu ranah Minang menjadi tempat belajar bagi banyak orang dari luar daerah. Tradisi itu jangan hilang. Pendidikan harus menjadi prioritas pembangunan jangka panjang. Kita harus kembali menanamkan semangat belajar, semangat bersaing, dan semangat unggul kepada anak-anak muda kita,” katanya.
Ia juga meminta organisasi-organisasi perantau seperti Gebu Minang dan berbagai elemen masyarakat Minang lainnya untuk mengambil peran lebih besar dalam memajukan pendidikan di Sumatera Barat. Bukan hanya melalui slogan, tetapi melalui dukungan nyata untuk sekolah, kampus, beasiswa, pembinaan generasi muda, dan penguatan budaya berprestasi.
Menurut Djamari, perguruan tinggi di Sumatera Barat pun harus berani memasang target tinggi. Dengan fasilitas yang tersedia, sumber daya manusia yang memadai, serta tradisi intelektual yang kuat, kampus-kampus di Ranah Minang semestinya mampu bersaing menjadi perguruan tinggi terbaik di Indonesia.
“Fasilitas ada, SDM ada, sejarah intelektual kita kuat. Jangan sampai kalah sebelum berjuang. Mental inilah yang harus diubah. Orang Minang harus berani bercita-cita tinggi dan berani merebutnya dengan kerja keras,” katanya lagi.
Dalam kesempatan itu, Djamari menegaskan dirinya siap tampil di depan untuk ikut mendorong semangat kebangkitan orang Minang di berbagai lini. Baginya, pengabdian seorang prajurit tidak berhenti ketika seragam dilepas. Selama tenaga dan pikiran masih ada, ia merasa terpanggil untuk terus menyumbangkan semangat, gagasan, dan keberanian bagi bangsa serta kampung halamannya.
Ia juga mengajak generasi muda Minang agar tidak lagi merasa canggung membawa identitasnya. Nama Minang, adat Minang, dan karakter Minang harus kembali tampil sebagai simbol kecerdasan, keberanian, etika, dan daya juang.
Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para pejuang Minang masa lalu yang telah memberi sumbangsih besar bagi republik ini, Djamari menilai generasi hari ini memikul tanggung jawab baru, yaitu harus membuktikan bahwa darah Minang tetap hidup, tetap kuat, dan tetap relevan dalam menjawab tantangan zaman.
Karena itu, ia berharap anak-anak muda Minang hari ini tidak ragu melangkah ke mana pun, baik di dunia pemerintahan, politik, akademik, media, bisnis, maupun ruang-ruang pengabdian sosial lainnya. Mereka, kata Djamari, harus tampil utuh, berani, dan tidak boleh lagi menyembunyikan diri.
“Anak muda Minang harus berani tampil. Jangan malu dengan identitas sendiri. Jangan tanggung-tanggung dalam berjuang. Kita ini punya sejarah besar, punya martabat, punya kemampuan. Tinggal sekarang, apakah kita mau bangkit dan membuktikannya, atau terus hidup dalam keraguan,” pungkasnya. (Syaf AL)

